Ateisme sebagai Permasalahan Terminologis

And if there is a God
I know he likes to rock
He likes his loud guitars
His spiders from Mars
– Smashing Pumpkins -

Bagi beberapa orang, gemerlap ‘ateisme’ bertabur kapsaisin. Terlalu pedas! Negativitas membuncah bagai bunga listrik dari tiap fonem dan suku kata dalam terma tersebut. Setan, kafir; ateisme adalah borok luka saat anak panah filsafat yang beracun menusuk jiwa (akal, barangkali… namun, mari gunakan istilah ‘jiwa’ agar nyambung jika bicara masalah agama yang seringkali dipakem ‘tanpa akal’).

Sejarah Ringkas

Ateisme di zaman modern digambarkan dengan apik oleh Achdiat Kartamihardja dalam romannya, “Atheis”. Hasan si santri jatuh cinta dengan Kartini, si kebarat-baratan yang berteman dengan hippie Leninis, Rusli. Terbuai dengan gaya hidup bebas yang ditawarkan ketakbertuhanan, Hasan membuang ‘salat’ dan ‘anti-zina’ sehingga menjadi individu yang ‘merdeka’. Di era pasca-proklamasi, ‘kemerdekaan’ merupakan kredo sekaligus ekstase dalam asa politik maupun individual. Dimotori antara lain oleh ideologi Marx, ateisme merupakan konkretisasi dari kritik panjang terhadap zaman industrialisasi dan kolonialisasi yang menghasilkan ketidakadilan dalam sistem kelas sosial. Bebas dari penjajahan, bebas dari feodalisme; bebas dari penjajahan dan feodalisme Tuhan juga; dan ateisme merupakan panti rehabilitasi kaum proletariat dari kecanduan buntu-berpikir gara-gara agama. Atau setidaknya, begitulah di zaman modern.
Ateisme di zaman modern juga dikatalisasikan oleh momentum-momentum megaspektakuler dalam dunia sains. Perkembangan pesat sains, diawali oleh Revolusi Industri di Inggris, terus menghasilkan terobosan-terobosan baru seperti penemuan berbagai macam vaksin, eksplorasi ruang angkasa, pengembangan pesat dalam teknologi nuklir, penemuan polimer raksasa, dan berbagai penemuan sains lainnya baik dalam ilmu eksak maupun terobosan sosial lainnya misalnya dalam ilmu antropologi dan politik. Semangat ini merupakan langkah galaktik menuju ‘dunia baru’; sebuah lompatan besar kebudayaan yang seakan membakar vivasitas kiblat-kiblat pemikiran besar – menuju dunia ‘baru’ yang jauh lebih ‘tercerahkan’ atau ‘Aüfklarung’. Pemikiran-pemikiran besar yang terasionalisasikan (salah satu titik terbesarnya adalah Descartes dengan slogan terkenalnya “Cogito Ergo Sum” yang memusatkan kebenaran pada zona terukur, logis, dan rasional) adalah akademi yang tak lagi dipatron oleh agama (gereja) lalu mulai mengejar Tuhan secara empiris. Scientifically speaking, begitulah di zaman modern.

Bagaimanapun, sebagaimana yang diutarakan oleh Bambang Sugiharto, menuju tahun-tahun terakhir dekade pertama abad 21 ini adalah menuju zaman yang post-sekular sekaligus post-religius. Hampir semua ideologi besar runtuh, disebabkan baik oleh munculnya pemikiran tandingan yang mencincang habis pemikiran sebelumnya, misalnya pemikiran dekonstruksi dalam filsafat yang menggebrak metanaratif yang sudah ajeg dalam masyarakat; disebabkan oleh permasalahan sosial politik tak-berujung yang semakin lama semakin menguras emosi, misalnya konflik Israel-Palestina; ataupun oleh gabungan interconnected dari keduanya. Institusi agama besar terlihat tidak dapat mengakomodasi perkembangan-perkembangan baru dalam zaman dengan caranya yang masih bertahan menggunakan tradisi doktrinal kuno yang seringkali terlihat sangat tidak relevan dengan denyut kehidupan masa kini. Seringkali, malah institusi agama sendiri yang menjadi agen diseminasi kekerasan baik secara emosional maupun fisik. Institusi agama kemudian termagnetisasi, secara ekstrem, menuju dua kutub yang berbeda – ketidakpuasan masal terhadap agama yang cenderung bergerak post-religius; di sisi lain kumpulan orang-orang agamis yang defensif terhadap agama, cenderung ortodoks dan konservatif, seringkali terlihat bergerak semakin dekat menuju fanatisme dan ekstremisme.

Ateisme yang merupakan bagian dari gaya hidup sekular (agama tidak sebagai prioritas) tidak juga dapat memberikan jawaban baik secara filosofis maupun secara pragmatis. Battlecry ateisme, ‘Tuhan tidak ada’, gagal dibuktikan secara empiris (sebuah kondisi yang bahkan lebih ironis lagi karena seringkali ateisme bersembunyi di balik rasionalisme empirik sebagai pusat kebenaran). Dalam sains, paham ‘sains-untuk-sains’ dianggap biang kerok yang menyebabkan munculnya kebiadaban seperti bom nuklir ataupun senjata biologis. Komunisme, yang dianggap sangat berdekatan dengan ateisme, gagal membangun ‘kerajaan rakyat’-nya yang makmur sehingga di satu sisi menjadi pukulan yang cukup telak juga bagi ketidakpercayaan-terhadap-Tuhan. Ateisme menjadi doktrin yang kering karena tidak dapat memberikan solusi bagi dimensi spiritual, dunia yang beyond-physics, dan juga masalah-masalah humanisme; salah satu alasan untuk timbulnya gaya berpikir post-sekular.

***

Secara terminologis, ateisme berasal dari prefiks a (tanpa); kata theos (Zeus, dewa, Tuhan); dan kata isme yang berarti paham. Sehingga, ateisme berarti paham tanpa Tuhan – paham ketanpaTuhanan. Bahasan sentral dalam ateisme adalah mengenai hakekat ‘Tuhan’ dan bagaimana ‘Tuhan’ mengejawantah di dunia fisik, khususnya dunia manusia, yakni dalam bentuk agama. Secara garis besar ada tiga layer utama yang menjadi poros utama pertanyaan-pertanyaan filosofis dalam ateisme: pertama, apakah Tuhan ada atau tidak; kedua, sifat-sifat Tuhan; dan ketiga, fungsi Tuhan dan bagaimana agama menjadi piranti Tuhan di muka bumi. Tulisan ini akan menilik secara ringkas garis besar dari ketiga bahasan ini dan menggugat masalah terminologis yang menggerogoti ateisme pada akhirnya.

Ketiadaan Tuhan

“Tuhan tidak ada! Aku ateis!” Kalimat klise yang bombastis ini biasanya merupakan akhir dari ketidakpuasan yang panjang baik terhadap institusi maupun doktrin agama; kulminasi dari renungan eksistensial yang menyertainya. Pernyataan tersebut sekaligus juga merupakan awal dari pembantahan sistemik yang mulai diluncurkan sebagai respon terhadap pernyataan tersebut, baik oleh kaum (sok) teis yang berada di sekitar si peneriak maupun dari dalam konsiens (sebut saja jiwa, batin; sebut kalbu bak Titi DJ, atau apalah) si peneriak sendiri. Pembantahannya berbunyi seperti ini: “Mana? Coba buktikan bahwa Tuhan TIDAK ada.”

Aturan logis yang digunakan dalam pernyataan ini adalah frasa Latin argumentum ad ignorantum, yang berarti bahwa sebuah premis tidak terbukti salah hanya karena tidak (belum) bisa dibuktikan benar. Saat kaum ateis mengatakan Tuhan tidak ada karena tidak ada pembuktian yang menyatakan demikian secara pasti, secara logis penarikan kesimpulan seperti ini tidak terjustifikasi. Tuhan tidak ada saat Ia memang terbukti tidak ada.

Dalam bukunya “The God Delusion”, Richard Dawkins mencoba mendorong beberapa pembuktian bahwa Tuhan tidak ada. Beragam teori diajukan, seperti ide mengenai ‘megaverse’ dari Susskind (hal. 146) mengenai konstanta-konstanta (bilangan tetap) yang mengatur jalannya alam semesta dan menjadi faktor determinan dalam segala bentuk yang tercipta dalam semesta ini, yang menyanggah konsep intelligent design. Lebih jauh, ia mengkritik cara pembuktian Tuhan oleh kaum teis (dalam konteks ini, gereja) yang menurutnya terlalu evasif (dengan selalu menyatakan bahwa pembuktian Tuhan takkan bisa dilakukan menggunakan nadi-nadi sains) dan subjektif (berdasar pada pengalaman spiritual seseorang yang sifatnya personal alih-alih universal). Filsuf ateis lainnya, Ludwig Feuerbach, menyatakan bahwa Tuhan tidak lain hanya merupakan projeksi dari keinginan manusia untuk menjadi sempurna. Ia bukanlah sebuah entitas omni (segala-maha) yang duduk di singgasana sentral eksistensi dan menduduki puncak hierarki kekuasaan eksistensial; namun Ia hanyalah atribusi dari apa yang didamba-dambakan dalam fantasi manusia. Ia menjadi fantastis dan manusialah yang membentuknya, sehingga manusia (lebih spesifik, menurut Descartes, adalah ‘akal’) merupakan sentral dari segala sesuatu. Menurut Feuerbach, masalah antara relasi Tuhan-manusia yang demikian adalah teralienasinya manusia dari aktualisasi-diri optimal yang mampu ia lakukan. Manusia tidak lagi mampu bergerak sedekat-dekatnya menuju kesempurnaan karena seluruh atribut baik sudah dipindahkan ke entitas lain (Tuhan) dan secara psikologis manusia tidak lagi berinteraksi dengan ambisi menuju kesempurnaan (yang menurut Feuerbach harusnya menjadi bahan bakar majunya peradaban).

Meminjam kacamata seorang eksistensialis-murni, klaim-klaim ini bermasalah. Apa yang dicoba dibuktikan dalam argumen-argumen ini bukanlah perihal tidak-adanya Tuhan, melainkan error of logic yang inheren dalam sifat atau atribut Tuhan menurut beberapa kelompok beragama. Dawkins mengkritik konsep intelligent design yang memercayai sebuah entitas kompleks yang membuat segala macam kehidupan di bumi tanpa proses evolusi, mampu melihat segalanya, mengetahui segalanya, dan serba-bisa; sementara Feuerbach juga berkutat dengan sifat ‘omni’ yang dimiliki Tuhan. Inilah kritik Karl Marx terhadap analisis Feuerbach: bahwa tenet sentral ateisme ‘Tuhan tidak ada’ sama sekali tak terbukti, saat apa yang dipermasalahkan malah atribut apa yang Tuhan miliki.

Jika boleh dikatakan demikian, deisme (deism [n]; deist [prep]) adalah ‘cabang’ dari ateisme yang mempercayai eksistensi sebuah entitas suprafisis dengan intelegensia tertentu sehingga bisa menciptakan alam semesta, namun entitas ini tidak mengambil pusing dengan menjawab doa, mengatur nasib dari ciptaan-Nya, atau mewahyukan firman. Secara eksistensial, deisme tidak dapat dikatakan selaras dengan ateisme karena masih mengakui adanya entitas superfisis tertentu yang (bisa saja) dinamai Tuhan.

Namun, bahkan ateis murni seperti Dawkins pun ternyata masih menyebut deisme sebagai ‘watered-down atheism’ (hal. 18). Dilihat secara naïf, hal-hal ini dapat dikatakan inkonsisten satu sama lain, karena deis, sebagai bagian dari populasi ateis, menerima probabilitas adanya eksistensi ‘Tuhan’. Jika demikian, apalah yang tersisa dari ‘ateisme’ jika ternyata paradigma eksistensialnya ambivalen seperti ini?

***

Keluhan Ateis terhadap Konsep Teisme

Masalah yang dikemukakan oleh para ateis terhadap para teis biasanya merupakan masalah mengenai sifat-sifat Tuhan. Secara doktrinal, kaum teis mencampuradukkan premis ‘Tuhan ada’ dengan premis atributif seperti ‘Tuhan Segala-Maha’; ‘Tuhan menentukan nasib dan menjawab doa’; dan ‘Tuhan menciptakan surga dan neraka’. Ateis menganggap Tuhan yang kontradiktif merupakan doktrin sampah. Skeptisisme bergulir saat Tuhan dikisahkan dapat ‘marah’ saat manusia berbuat tidak ideal (padahal, kalau Ia maha-tahu harusnya Ia sudah bisa memastikan dari jauh-jauh hari bahwa manusia ini akan berbuat seperti itu di masa depan, sehingga aneh sekali jika ia mengeluarkan reaksi ‘marah’ seolah-olah terkejut dan kesal karena apa yang terjadi tidak seperti apa yang Ia harapkan). Frustrasi dan kemarahan menggelegak saat Tuhan diposisikan sebagai momok yang menghitungi kesalahan manusia dalam bulir-bulir dosa dan mengancam manusia dengan penyiksaan abadi (kontradiktif dengan dua premis: 1. Tuhan harusnya maha-penyayang; dan 2. Tuhan menciptakan manusia secara tak-sempurna dan pasti berbuat salah. Aneh sekali jika hukuman kemudian diciptakan untuk menghukum suatu sifat yang inheren).
Sifat-sifat Tuhan biasanya merupakan doktrin, dogma, kanon – secara hiper-sarkastik, kita sebut ‘dongeng anak-anak’ – yang disampaikan oleh institusi-institusi agama, khususnya institusi agama monoteistik turunan agama Abraham (Judaisme, Kristianitas, dan Islam). Sifat-sifat Tuhan – baik Tuhan sebagai superdesainer yang membentuk seluruh ciptaan yang dapat kita amati sekarang di alam semesta ini, Tuhan sebagai hakim agung yang memenjarakan orang dalam neraka dan memberi kebahagiaan dalam surga, ataupun sifat Maha-Tahu dan Maha-Mengawasi-Nya – merupakan usaha sinkronisasi wavelength ilahiah ke dalam kemampuan perseptif masyarakat awam; dengan kata lain, aplikasi agama. Dari beragam ateis yang pemikirannya paling menonjol dalam sejarah, biasanya aplikasi agama inilah mereka kritik – mulai dari kritik Marx terhadap agama sebagai represi politis untuk mempertahankan dominansi kaum feudal; kritik Feuerbach yang menilai buruknya projeksi sifat-sifat manusia kepada suatu entitas lain yang mengalienasi manusia dari sifat-sifatnya sendiri; dan juga masalah Dawkins dengan klaim intelligent designer dan mukjizat-mukjizat (miracle) yang diwartakan institusi agama besar, khususnya gereja.

Eksistensialisme vs. Fungsionalisme

Kembali ke masalah eksistensi Tuhan. Inilah pertanyaan filosofis abadi yang menghantui benturan teis vs. ateis: terlepas dari segala sifatnya, apakah Tuhan itu ada atau tidak? Apakah ada suatu entitas suprafisis yang, dalam mengikuti istilah Kant, berinteraksi dalam level noumena (di luar persepsi/observasi inderawi)? Haruskah ateisme membuktikan ketidakberadaan entitas ini untuk memosisikan secara ajeg sudut pandangnya terhadap Tuhan?

‘Tuhan itu ada atau tidak’ merupakan diskusi yang tak mungkin terjawab. Saat pertanyaan ini terjawab, maka, menginterpretasi apa yang dikatakan Nietzsche, itulah saat kematian Tuhan dan keruntuhan seluruh kompleksitas semesta; karena inilah momen saat manusia menemukan ujung alam semesta. Teis tidak akan dapat membuktikan keberadaan Tuhan, ateis pun tidak akan dapat membuktikan ketiadaan Tuhan. Sehingga, pertanyaan ini bukanlah menjadi problem sentral yang dihadapi, dalam konteks ini, ateis. Konsep ateisme tidaklah berkutat pada usaha logis untuk mencari celah pada eksistensi Tuhan, namun cenderung melihat dan mengkritik bagaimana Tuhan dipersepsikan oleh doktrin agama. Sehingga, tidaklah adil jika ateis diserang dan dituntut untuk membuktikan bahwa Tuhan ‘tidak ada’; sebagaimana demand ateis yang memaksa teis memperlihatkan manifesto Tuhan secara fisik adalah absurd.

Sayangnya, rancunya batas antara eksistensi Tuhan dan fungsi Tuhan selalu dimanfaatkan kaum teis dalam hampir setiap diskursus mengenai ateisme. Argumen ‘life-jacket’ yang berbunyi antara lain ‘lebih baik percaya Tuhan, karena kalau Ia ada, kita akan selamat dari siksa-Nya; kalau Ia tidak ada, toh tak ada ruginya juga percaya’ sangat sering di-abuse sebagai alasan yang (sok) logis mengenai teisme. Argumen ‘muasal moralitas’ juga sering digunakan, yang menyatakan bahwa manusia tidak akan bisa bermoral kalau tidak ada manfaat untuk moralitas (baik) dan hukuman untuk perbuatan amoral (buruk). Saat para ateis mencoba menghantam balik argumen-argumen ini, rongrongan klasik mulai dimainkan: ‘coba buktikan dulu bahwa Tuhan tidak ada, baru boleh mengkritik agama’.

***

Permasalahan Terminologis

Negativitas yang ditujukan terhadap ateisme – baik dalam bentuk moderatnya yakni argumen frontal, bentuk ekstremnya yakni anarkisme hiper-teisme/anti-ateisme, dan bentuk subtilnya yakni paradigma awam – sangatlah tidak proporsional. Ateis dianggap tolol karena berkoar tanpa pembuktian yang jelas mengenai ketiadaan Tuhan. Faktanya, eksistensialisme adalah losing fight, karena verba ‘membuktikan’ yang operatif dalam penentuan sifat ada/tidaknya suatu zat merupakan verba yang menuntut adanya kejelasan empiris. ‘Membuktikan’ adalah produk dari rasionalitas – sistem yang bekerja hanya di dunia fisik.

Salah satu sebab fragile-nya posisi ateisme adalah istilah yang ia gunakan untuknya sendiri. Seperti telah dibahas sebelumnya, kata ‘ateisme’ secara sederhana berarti paham ketanpaTuhanan, sebuah kata yang mengandung elemen eksistensialistis yang kuat. Hasilnya, ia sulit sekali melindungi dirinya dari pertanyaan-pertanyaan eksistensialis yang stasioner (walau tak absurd).

Saya tidak ingin berpikir simplistik dan menyatakan bahwa interpretasi leksikal terhadap kata ‘ateisme’ berhenti pada level yang terlalu harfiah; terlalu eksistensialis. ‘Ateisme’ sendiri dapat diinterpretasikan menjadi paham mengenai ketanpaTuhanan; paham mengenai konsep Tuhan yang tak lagi berfungsi dalam penerapan sosialnya; atau paham mengenai ketidakpuasan terhadap sesuatu yang disebut ‘Tuhan’ oleh agama (berikut segala atributnya yang carnival-esque) dan pencarian terhadap alternatif deitas ‘Tuhan’ yang tidak terlalu doktrinal. Ateisme mengejawantah menjadi fraksi-fraksi seperti panteisme (‘Tuhan’ adalah hukum alam dan ketetapan/konstan semesta) ataupun neo-politeisme. Walaupun ‘ateisme’ adalah terma yang bisa diperlakukan secara cukup lentuk, namun penggunaan kata ‘ateisme’ yang ambigu berisiko inherennya pembuktian eksistensialis yang berujung pada redundansi: sehingga ‘ateisme’ bak menggerogoti dirinya sendiri.

‘Ateisme’ adalah terminologi yang kurang fair. Masalahnya adalah, ateis tidak berhadapan melawan ‘teis’ [saja]. Yang dihadapi oleh ateis adalah ‘pemeluk agama’. Mungkin lebih tepat jika kita menyebut ateisme sebagai ‘a-institusi-agama-isme’ – yakni paham yang tidak setuju akan definisi Tuhan menurut agama terinstitusikan yang penuh doktrin. Secara maknawi, istilah ini kiranya tepat untuk melukiskan ketidakpuasan para ateis dengan institusi agama. Hanya saja, terma ini tidak dapat berdiri sejajar dengan ‘ateisme’, mungkin disebabkan permasalahan bahasa Latin. Prefiks a- dan sufiks –isme digunakan dalam bahasa Latin, sehingga dibutuhkan suatu kata benda dalam bahasa Latin untuk merepresentasikan ‘institusi agama’.

Permasalahan lain muncul ketika bentuk Latin dari ‘institusi agama’ sulit ditemukan. Hal ini dikupas secara komprehensif dalam buku The Meaning and End of Religion (1962) oleh Wilfred Cantwell Smith, salah satu dari buku-buku studi agama yang dekonstruktivistik. Menurut Smith, penggunaan kata ‘religious’ sekarang harusnya sepadan dengan kata ‘pietas’ dalam Yunani kuno yang berarti ‘saleh’. Padahan, kata benda dari ‘religious’, yakni ‘religion’ tidak berarti ‘piety‘ atau kesalehan, melainkan ‘(institusi) agama’. Lebih final lagi, Smith menyatakan bahwa bangsa Yunani kuno berpikir tentang dewa-dewa dan filosofi dunia, namun mereka tidak pernah berpikir soal ‘religio’.

Istilah yang dapat dikoinkan mungkin adalah ‘areligionisme’ (namun istilah ini terdengar sangat alien dan absurd). Istilah lain yang lazim digunakan, yakni ‘agnostisisme [Kb]; agnostik [K.ganti]’; pun tampaknya memiliki diferensiasi makna yang cenderung peyoratif, karena kata tersebut merupakan derivat dari kata gnosis yang berarti pengetahuan. Menyebut paham anti-institusi agama sebagai paham ‘ketidaktahuan’ rasanya tidak cukup representasi dan tidak lagi menjadi label yang tepat. Mungkin ‘sekularisme’ merupakan terma yang cenderung mendekati makna yang ; sayangnya terma ini cenderung lembut dan terlalu happy-go-lucky dalam penggunaannya dan tidak merupakan suatu antitesis frontal terhadap institusi agama (sekularisme cenderung menyatakan bahwa agama ‘kurang penting’, alih-alih menyatakan bahwa fungsi Tuhan ‘tidak penting’).

Dapat disimpulkan bahwa dibutuhkan suatu terma baru yang kongruen dengan ‘anti-institusi-agama’. ‘Ateisme’ sebagai meriam utama terhadap kanon-kanon agama terinstitusikan sudah menjadi basi oleh fermentasi waktu. Sebagai sebuah istilah, ia tidaklah lagi ideal karena memiliki terlalu banyak elemen eksistensialis (dalam hal ini mengenai Tuhan) dan terlalu sedikit elemen agama. Sejauh ini, tulisan ini belum dapat membentuk sebuah istilah pengganti yang berbalut conviction. Namun, hal ini cukup penting untuk disemai sebagai bahan pikiran, karena dirasa sangat krusial untuk membangun level baru dalam kritik terhadap ortodoksi dan intoleransi banyak bagian institusi agama.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s