Saya Takut

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Pendar warna penuh ‘glare’ hanya minoritas saja dalam semesta kelabu

Saya takut. Takut pada hari esok. Jika malam tiba, gelisah penuh mewarnai otak, lambung, dan sel-sel saraf. Insomnia bermain cinta dengan pikiran. Kalbuku terus bercumbu, tak mau tenang. Sesuatu yang besar dan mencekam datang mencekat tenggorok. Seperti ayam mau disembelih. Kutelanjangi diri dari segala perisai dan baju zirah, berharap kantuk menyerang, memerkosa, menggasak habis diriku. Kuselubungi tulang-tulangku dengan kegelapan. Namun kegelapan dan bantal-guling yang menekan hanyalah vitrage kotor yang menutupi dua jarum jam. Detaknya masih terdengar, masing-masing seperti halilintar, terkaget dengan voltase luar biasa.

Saya berdoa sepanjang pagi agar detik ini bisa berhenti. Supaya menit ini janganlah pergi. Suara bariton meringkik seperti kuda, meminta kuasa pada Yang Maha Esa agar abadi tercipta. Merana, merayu, menggoda Tuhan. Tubuh mencelat kesana-kemari, lintang pukang berusaha memuaskan diri dengan keadaan. Keadaan waktu yang tak terhentikan. Selimut membunuh. Air minum seperti asam yang menghujam saluran pernafasan. Lalu saya berjalan di atas ubin yang setengah dingin-setengah hangat. Mengumpulkan debu dan nasi yang mongering di telapak kaki. Baju adalah kenistaan, seakan sebuah hinaan, cobaan yang perih tiada terperi. Apalagi tubuh, yang tulangnya membunuh sendiri. Saya ingin tertawa lantaran lucu, namun saya terlalu takut untuk bahkan membuka mata. Setiap detik adalah serangan jantung. Andaikan saja serangan ini dapat membunuh, bukan Baygon, bukan pula silet yang terlalu dramatis. Simpul tali adalah pecundang. Namun hidup pun diliputi rasa segan.

Tukang jagal menaruh otakku di atas treadmill berkecepatan jalan tol. Dalam mimpi aku berlari, seakan meneruskan ketakutanku. Mana tombolku, kataku. Tanyaku. Pintaku. Teriakku. Saya ingin mematikan diri saya sendiri. Klik, seperti mencabut kabel komputer dari stop kontak. Shut down terlalu lama. Dalam tidur, Spice Girls bernyanyi dan raga berjumpalitan, seperti hiking sekaligus terbang layang. Lari! Saya capek, tapi otak saya belum capek. Bukannya dia punya stamina, karena makanan adalah dosa; tapi dia takut. Saya meminta selimut bayi untuk menutupi celah hitamku, dengan harum matahari dan Molto yang baru saja disetrika. Pergi sudah aku ke India. Terjun dari atap Taj Mahal. Lalu warna berubah senja. Pagi tercipta. Mata terbuka. Belek menggantung, ingus memenuhi rongga.

Saya meludah. Saya mengeluh.

Saya masih tetap takut.

Hari hilang, seakan merefleksikan betapa efemeralnya makna akuntansi dari semua ongkos-ongkos angkot dan sumpah-menyumpahi para penumpangnya yang tidak tahu diri. Membodohi semua artis televisi. Melukisi karton manila dengan warna-warni goblog. Hari yang hilang saat saya berada tinggi. Tinggi di atas padang bunga busuk yang dihinggapi lalat. Baru beribu-ribu abad setelahnya saya melihat dalam rekaman handycam kehidupan saya sendiri bahwa sama sekali bukan apeks-lah tempat saya berada. Bukan di ketinggian itu. Bukan tinggi, namun hanya sebuah padang bunga busuk yang sejajar dengan taman yang lain. Hanya saja, taman-taman yang lain penuh indah permata, rayuan kelapa, wangi bebunga. Sementara padangku terkucil, berbeda, terpisah, walaupun tataran tingkatannya sama tinggi. Bunganya sayu, rumputnya kuyu, dedaunan lapuk, bahkan tanahnya pun layu. Yang hidup hanyalah bunga-bunga hitam legam berbibir penuh taring, lahap mengatupkan rahangnya bagai piranha soleh persis sebelum bedug puka puasa. Padangku adalah ladang kecil yang aneh, terisolir, terdislokasi.

Lalu saya bilang bahwa saya konyol.

Tapi saya masih tetap takut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s