Sup Kentang!

Salah satu kafe di Bandung menyediakan sajian yang cukup unik, yakni sup kentang. Sup yang kuahnya agak kental itu murni berisi satu jenis sayuran saja: kentang. Potongan kentang bertekstur lembut yang terendam dalam kuah lantas menjadi gepeng jika saya tekan dengan sendok. Sup itu ditaburi oleh seledri (atau peterseli? I’m not very good at differing these two vegetables…Dill sprigs, maybe?) dan pada daftar menu, nama Potato Soup atau sup kentang ini masuk ke dalam kolom Vegetarian’s Choice. Sebetulnya saya kurang suka terhadap paham makan ala vegetarian. Sepertinya gaya pikiran yang memupuk devosi berlebih untuk mengurangi dedaunan yang menghancurkan karbondioksida dan menyediakan oksigen – yang tiada lain tiada bukan adalah unsur (senyawa monoatomik, maksud saya) yang terpenting dalam kehidupan manusia – demi kepentingan tubuh mereka sendiri. Tapi toh saya menyantap habis sup kentang yang disajikan di hadapan saya, tanpa peduli saya setuju dengan aliran vegetarianisme atau tidak.

Satu hal yang tak bisa lepas dari pikiran saya – soal sup kentang tadi – adalah kata-kata yang memiliki nilai humor, lebih sarkastis lagi, nilai seni yang tinggi yang saya dengar beberapa saat yang lalu. Ini adalah pengalaman saya, di suatu saat dimana saya tidak bersubjek sebagai diri, individu, ataupun karakter milik saya sendiri melainkan sebagai bagian dari sebuah kelompok submisif berjudul “mahasiswa baru” di sebuah institut ternama di Bandung.

"Dasar kalian! Kecipir kalian! Kentang kalian! Semakin direbus, semakin...." senior penuh lagak itu kehilangan kata-katanya, dipelototi dengan galak oleh senior lain di sebelahnya. Ia sadar, ia baru saja salah obrol yang lumayan fatal. Dipikir dulu sebelum berteriak, bung! omelku dalam hati.
“Dasar kalian! Kecipir kalian! Kentang kalian! Semakin direbus, semakin….” senior penuh lagak itu kehilangan kata-katanya, dipelototi dengan galak oleh senior lain di sebelahnya. Ia sadar, ia baru saja salah obrol yang lumayan fatal. Dipikir dulu sebelum berteriak, bung! omelku dalam hati.

Ketika itu semua anggota kelompok “mahasiswa baru” ‘diminta’ datang oleh senior di institut itu ke sebuah acara mentoring, begitu acara tersebut dinamakan. Setelah itu, setelah tele-tele dan permainan biasa ala senior – bentakan, teriakan, makian, cemoohan, dan sindiran rasa cengek,  kami (anggota “mahasiswa baru” yang datang ke acara tersebut, mengecualikan orang-orang yang berhasil kabur ^_^) dikumpulkan untuk duduk dan mendengarkan penutupan dari senior. Senior pun mulai mengoceh dengan lagaknya yang luar biasa tentang hal begini dan hal begitu yang terdengar ideologis tapi ternyata hanya dangkal semata. Tahulah, hal-hal seperti ketidakkompakan karena tidak 100% anggota “mahasiswa baru” datang ke acara tersebut, konsekuensi yang harus diterima, dan pembahasan yang menarik tentang kepengecutan. Lucu, karena rupanya beberapa orang senior adalah vegetarian murni. At least, penganut vegetarianisme (walaupun mungkin beef burger McD plus ayam goreng, scrambled egg, dan medium Cola tidak terlewat dalam hari-harinya melihat badannya yang gembul). Bayangkan, beberapa orang tersebut bisa menganalogikan “mahasiswa baru” dengan sayuran! ‘Dasar kalian! Kecipir kalian! Kentang kalian!’ begitu katanya, seolah ini adalah sebuah makian (saya bingung, padahal kan sayuran punya nilai nutrisi yang sangat baik bagi badan). Lucunya lagi, kemudian mereka menambahkan, ‘Kentang aja waktu mentahnya masih keras. Kalian, mentahnya aja lembek…’

Komentar saya, anyone has the Thousand Island? I desperately need them for the salad. Mengapa tiba-tiba kentang, kecipir, dan sebagainya? Menggelitik perut, jika saja konteksnya lebih bisa dinikmati daripada waktu itu — sudah malam, penuh lapar, sudah lelah, tugas menumpuk menunggu digarap. Yang paling aneh, jika si kakak bilang bahwa kentang mentahnya keras, maka matangnya lembek! Tidakkah senior adalah orang yang lebih matang? Maka, si kakak bilang kami lebih keras daripada mereka yang lembek? Aduh! Tak heran senior di sebelahnya memelototi si asbun setelah ia berujar penuh koar. Salah fatal, bung. Logika Anda lebih lucu daripada kecipir. Mungkin ada baiknya dipikir masak-masak dulu (no pun intended) sebelum gong pita suara Anda ditabuh sepenuh tenaga.

Betapa lezatnya salad yang mereka sajikan – sebuah restoran yang bernama senioritas.

***

Sebuah siklus yang dramatis dalam masyarakat Indonesia adalah penggojlokan atau perpeloncoan siswa baru dalam sebuah komunitas sekolah. Istilah halusnya: masa orientasi, tahap pengenalan, fasa pengakraban, dan sebagainya. Namun biasanya keakraban yang ingin dijalin oleh para senior –atau kakak kelas- dengan adik kelasnya akan berakhir miris. Sebut saja sebuah contoh yang begitu nyata: meninggalnya “mahasiswa baru” (kurang lebih seperti itu) di STPDN Jatinangor karena ‘dikerjai’ oleh seniornya. Mungkin saya – atau mungkin anda pun – tidak menyelami seluk-beluk detail peristiwa ini, namun satu hal yang pasti: seorang yang ‘baru’ dalam sebuah komunitas pendidikan telah menemui ajal karena dua hal yang sudah pasti bukan: kecelakaan dan kebijaksanaan sekolah. Dalam sidang yang saya hadiri sebagai mahasiswa baru pun rektor institut tersebut kembali menyegarkan ingatan tentang kasus tragis dimana jatuh lagi korban mahasiswa –yang mungkin sebetulnya sangat berbakat dan pintar, namun hanya kurang beruntung– dalam aksi ‘pengenalan’ yang dilakukan senior.

Sering rasanya pahit menjadi sebuah bagian yang baru dari sebuah organisasi edukatif di Indonesia. Dengar saja keluh kesah murid-murid SMA yang harus ‘jalan bebek’ keliling lapangan atau push-up beberapa seri untuk mendapatkan tanda-tangan kakak kelasnya. Dengar juga protes nurani para mahasiswa baru yang dibawa ‘hiking’ ke gunung hanya untuk kemudian dilumuri lumpur dan merangkak di tengah rawa pada malam hari. Ups, jangan lupa satu bumbu utama dalam semua kegiatan itu: makian kasar dan teriakan. Seakan semua dehumanisasi adalah sah dibawah panji orientasi.

Seluruh panji-panji ini selalu mengibarkan bendera yang berkisah secara dramatis soal penggemblengan mental. Adakah jiwa waras yang tiada bertanya, mental seperti apakah yang ternyata dibangun – atau, dengan kata-kata sang pengibar panji itu sendiri – digembleng oleh aktivitas orientasi yang biasa terjadi?

Aksi Balas Dendam

Yang pertama, sebuah kewajaran yang seratus-persen normal dan masuk akal, adalah apa yang saya sebut sebagai mental dendam-kebencian-dan-bidik-ulang. Maksudnya, dalam kegiatan pendidikan mental tersebut, dendam dan kebencian (which has obviously emerged and kept on growing inside of each of participant’s soul! I mean, who is sane enough not to held grudge to ruthlessly-speaking people!? Oh, well, yes, saints. But saints don’t get ‘mental trainings’ from their seniors, right!? ^_^) yang timbul tidak akan diselesaikan sebagaimana mestinya. Dalam norma yang sepatutnya, segala macam dendam, permusuhan, dan permasalahan seyogianya diselesaikan langsung dengan orang-orang yang bertikai. Ambil contoh, dendam dengan si A maka penyelesaiannya pun harus dengan si A. This is common sense. Namun, yang terjadi setelah orientasi adalah peserta yang memendam ketidaksukaan kemudian menyalurkan kebencian ini kepada junior mereka, setelah mereka kemudian menjadi senior. Dan terus seperti itu, menghasilkan rentetan balas dendam yang tidak berakhir. Hal ini muncul karena orientator atau penggembleng rupanya ‘lupa’ untuk menekankan bahwa penting bagi peserta orientasi untuk melihat bahwa tindakan ‘marah-marah’ dan apokaliptik mereka semata-mata bertujuan untuk melatih respons yang kritis dan keberanian dalam hal menentang tirani. Para penggembleng, untuk sebuah tujuan yang mulia, telah mengorbankan diri untuk berperan sebagai tiran-tiran kejam dan lalim demi menghasilkan orang-orang seperti Joan of Arc, Ibrahim, atau Musa yang akan menjatukan mereka dan tirani mereka.

Namun yang lazim terjadi adalah, para aktor tiran ini rupanya ‘keterusan’ dalam aktingnya menjadi sang penguasa zalim, sehingga para peserta orientasi tidak dapat memahami maksud yang sebenarnya (yang mungkin sebetulnya mulia) dari kegiatan orientasi tersebut. Keterhapusan maksud seperti ini mengakibatkan rentetan kezaliman mulai terjadi ke arah bawah dan terjadi diferensiasi ideologi ‘pendidikan mental’ hingga pada level yang fatal, mengakibatkan frasa ini digunakan sebagai justifikasi untuk tindakan-tindakan lalim oleh beberapa pihak yang mengusung mulianya senioritas tanpa memahami hakikat dari frasa itu sendiri.

Kesalahan persepsi ini mengakibatkan kebencian, bukannya pendidikan, dalam jiwa para peserta orientasi. Bagaimanapun ini, sekali lagi, adalah hal yang sangat rasional mengingat begitu saratnya proses ini dengan dehumanisasi. Kemudian, karena para penggembleng merasa tugas mereka sudah ‘selesai’ (tanpa harus repot-repot menjelaskan mengapa mereka bertindak sedemikian), mereka tidak mempunyai urusan, apalagi hak untuk tuntut-dituntut, dengan para peserta orientasi, selain dari status warisan yang mereka berikan kepada generasi penerus mereka – penerus mereka secara harfiah ditambah dengan penerus generasi gembleng-menggembleng. Karena itu, para peserta orientasi yang bersungut-sungut di dalam hati (karena kebencian mereka masih membekas di hati), akan membidik-ulang kebencian itu kepada pihak-pihak lain yang mereka anggap vulnerable – para junior mereka. Reaksi psikologis mereka untuk membidik-ulang seperti ini sangatlah reasonable secara medis karena bagaimanapun mereka, setelah peristiwa orientasi, sudah diisi penuh oleh stigma senioritas yang mengagungkan senior, di sisi yang sama, melecehkan junior. Hal ini diperburuk oleh reaksi traumatis untuk menghindar sebisa mungkin dari orang-orang yang telah – menggunakan reaksi dramatis yang cukup relevan, sekali lagi – menyiksa mereka, walaupun hal ini hanya terjadi oleh sebagian dari peserta orientasi.

Menjilat Pantat

Yang kedua, adalah mental penjilat. Dengan kata bahasa Indonesia yang sangat peyoratif seperti ini, penjilat adalah suatu status yang menjijikan (lebih menjijikan lagi padanan katanya dalam bahasa Inggris, butt-licker). Karakter ini, for a shocking-but-true fact, ternyata dibangun salah satunya dengan bantuan proses dehumanisasi yang lumrah terjadi dalam proses orientasi. Sebelum itu, mari sepakati bahwa proses orientasi (dalam pembahasan ini) berisi beberapa kategori, yakni tindakan yang bersifat yang anarkis secara psikologis, dehumanisasi, dan eksagerasi atau proses melebih-lebihkan.

Sebuah istilah orde baru dengan brilian telah memberikan penggambaran yang gamblang mengenai penjilat, yakni golongan ABS – Asal Bapak Senang. Sindiran tajam ini menjelaskan betapa penjilat akan melakukan apapun asal atasan atau orang yang mereka pentingkan menjadi senang, walaupun itu artinya sesuatu yang sebetulnya bertentangan dengan nurani mereka. Hal ini saya lihat sendiri dari berbagai kegiatan orientasi yang saya (terpaksa) ikuti. Saran dari beberapa orang teman yang sukses dalam proses tersebut sebagian besar berbunyi: “Yang seperti itu nggak usah dimasukin ke dalam hati, bilang iya aja! Asal mereka nggak bicara lagi, masalahnya kan selesai…”.

Padahal, esensi dari kegiatan orientasi atau pendidikan mental itu sendiri adalah membangun jiwa-jiwa yang kritis dan berani menentang kesalahan, bukannya orang-orang permisif yang begitu saja diam walaupun terusik, demi terus menghidupkan harapan akan hubungan baik dengan atasan – dalam hal ini, senior.

Bagaimanapun, harus disadari bahwa hal ini terjadi karena orientasi sendiri, seperti yang telah dibahas sebelumnya, telah mengalami pergeseran makna. Begitu pun sang orientator. Pada awalnya, saat nilai ini belum berdilatasi, perlawanan oleh peserta akan dianggap sebagai sesuatu yang membanggakan, sebagai tonggak keberhasilan dari sebuah pendidikan mental. Namun, yang muncul saat ini adalah orientator-orientator yang menganggap bahwa perlawanan adalah suatu gangguan, sehingga dehumanisasi yang terjadi pun akan semakin sengit terhadap sang pemberontak. Hal ini akan menciutkan semangat pemberontak yang lain, sehingga apapun akan dilakukan untuk keluar dari kondisi yang serba menyesakkan itu, walaupun itu harus menelan kembali nurani yang melesak keluar dan memegang, unconsciously, mentalitas sebagai ass-kisser.

Di samping itu, orientasi adalah kegiatan yang ajaib karena statusnya yang cukup langgeng dalam masyarakat. Yang membingungkan adalah, tujuan universal dari kegiatan ini. Apakah memang kegiatan seperti ini terbukti membangun sumber daya manusia yang lebih kompetitif? Jika ya, mengapa hanya terjadi di Indonesia. Banyak negara maju yang sama sekali tidak memedulikan kenal-kenalan. Yang penting sukses. Pun, orientasi tidak dapat dijadikan sebuah perlengkapan yang baik untuk membangun sumber daya yang produktif.

***

Bagai Kentang, Digodok Hingga Lembek

Saya rasa, orientasi tidak dapat dijadikan sesuatu yang kompulsori pada sebuah institusi, seagung apapun hierarki dalam institusi tersebut. Mungkin saya termasuk orang yang beruntung karena pada institut tempat saya belajar, kegiatan semacam ini tidak menjadi sesuatu yang dapat dipaksakan. Namun, saya tahu benar bahwa di tempat lain, kegiatan ini masih marak – kegiatan yang berupa ajang balas dendam, dehumanisasi; dimuati oleh drama yang kelewat banyak; saking banyaknya sampai nilai dan tujuan aslinya hilang ditelan kepalsuan. Beberapa insiden menyedihkan karena sikap ‘kakak kelas’ yang terlalu buruk seharusnya tidak terjadi.

Sup kentang – dengan kentang yang lembek-lembek – sebetulnya sangat menunjukkan watak bangsa ini: lembek. Kesukaan kita hanyalah duduk kongko-kongko dan berharap Tuhan terus menurunkan rezeki – persis seperti iklan sebuah produk rokok yang menyindir pegawai negeri dengan kalimat “Tidur terus tapi naik gaji”. Orientasi pun tak lebih dari suatu bentuk ketidakdewasaan. Mungkin orientator akan lebih mementingkan adik kelas yang hormat (baca: pandai menjilat, terlihat baik di depan padahal mencibir dan meludah-ludah di belakang) daripada produktivitas sumber daya manusia yang tinggi. Jikalau kita mempunyai waktu untuk kegiatan orientasi, apakah tidak sebaiknya waktu yang sedemikian banyak itu digunakan untuk hal-hal yang lebih mengasah produktivitas? Karena, bangsa ini betul-betul terpuruk. Untuk apa kita berhormat-hormat jika kita tidak bisa bersaing dengan sumberdaya negara lain?

Atau, ini adalah bukti dasar dari bangsa Indonesia yang selembek kentang – malas berpikir tentang hal yang nyata, tapi menyukai drama.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s