Viskositas Gelap Tinggi dalam Pagi

Pagi bagai tar kental yang mengering dan hanya menyisakan kepul granula hitam...
Pagi bagai tar kental yang mengering dan hanya menyisakan kepul granula hitam…

Derit gitar dan gemanya yang dalam memantul-mantul. Mentari enggan bangun, hari pun masih diwarnai kelam. Subuh itu terasa seperti personifikasi dari kematian; sebuah hari yang gelap, tertukar antara awal dan akhir. Subuh itu bagai matahari terbenam; langitnya yang setengah gelap dan musik kontemplatif yang perlahan mengalun. Bagaimanapun, tukang-tukang jualan tak boleh mengeluh: bakpao, bacang, roti tawar; semua mengeraskan volume toa mereka, berharap para ibu dan anak sekolahan akan tergopoh-gopoh keluar untuk membeli dagangan mereka. Walaupun hari itu hari Minggu, tidak ada orang yang sekolah. Perut manusia yang keroncongan dipanggil-panggil oleh talu memabukkan dari speaker murahan.

***

Pagi itu ia nongkrong di depan pagar, berdiri setengah usaha, menyandarkan tangannya yang bersidekap ke railing besi. Tubuhnya gelap tertutup bayangan, apalagi seluruh wajahnya yang bernaung di bawah kanopi. Ia mengalihkan pandangannya ke kiri dan ke kanan, lagi-lagi melihat rumah yang juga tertutupi oleh bayangan. Semua bayangan, karena mentari belum lagi terbit di cakrawala. Nyala lampu neon yang sedingin es mencuat dari pojok-pojok, seperti senjata yang ditodongkan dari balik jendela. Jalan gelap. Aspal gelap. Pohon bersiluet, dan angin pun gelap. Manusia tetap bangun, tetapi tak kuasa melawan gelap.

Akankah pagi itu cair? Viskositas tanpa cahaya yang tinggi mengurung gerak-gerik dalam irama slow motion. Rumah masih tetap terlelap, hanya tukang ojek saja yang mau keluar di pagi buta untuk menunggu penumpang pertama memanggil, menyetop, naik, turun, lalu membayar barang beberapa ribu rupiah. Menunggu koran pun tak ada gunanya, karena toh gelapnya masih memberatkan mata. Namun, walaupun kelopak mata yang terbuat dari besi terus menggantung dari atas ke bawah, dan selaputnya yang sekasar sisik terus mengiris, tetap saja pupilnya memandang nyalang kosong ke depan.

Kegelapan hanyalah sebuah gorden yang menyelubungi keberadaan; sebuah medium yang memungkinkan untuk bicara dengan dunia metafisika. Seluruh dunia terlihat berpusing: gelap, para penjaja makanan dan pemulung, gelap, wajah para guru dan kelas di sekolah, gelap, angkot yang berseliweran, gelap, toko-toko yang belum buka, gelap, gempita tahun baru, gelap, gelap, gelap. Kegelapan membubung dan melukiskan bayang sekitar bersit-bersit anti-kegelapan yang kuat menyengat berseliweran cepat seperti serat-serat cahaya yang dibebaskan dari sangkarnya. Sebuah film. Hanya saja, film tersebut berputar dalam gelap seperti projektor bioskop yang hanya mau jalan kalau lampu sudah padam. Sayang pita seluloidnya sudah matang terpanggang asap rokok, gas knalpot, dan api cibiran orang-orang sok tua, seperti roti yang setengah gosong. Adegan-adegan dalam seluloidnya pecah terurai berhamburan lalu dipasang kembali asal-asalan. Ritme staccato, urutan yang amburadul bolak-balik dari awal ke akhir lalu tengah dan 1 ke 7 ke 4 lalu 100 dan 9002; hancur semua, semburat serat-serat cahaya yang membutakan mata; bola itu pecah menjadi buyatak.

Denting piano bersinar lebih terang dari matahari pagi, lebih tenang dari bulan di langit malam hari. Denting piano membasuh lusuh, mencucinya menjadi kemilau dengan kelembutan kain sutera yang membalut mutiara. Orkestra hanya merusak semuanya, maka ia buang segala bas, tuba, dan klarinet. Hanya piano. Dan harpa, namun ia tanpa sengaja ikut membuangnya bersama alat musik lainnya. Harpa, bas, klarinet, apalah, hilang semua. Hanya piano. Piano yang bersuara dalam gelap, mencuci seluloidnya dan menghilangkan bekas sundutan rokok. Serat-serat cahaya seperti rapi tersisir mulai bermain.

Warna dunia yang kelam, gelap, dan kental berangsur mencair; seperti es batu dari kopi yang baur berangsur-angsur dalam segayung air. Hanya tinggal sisanya saja, sedikit kabut kehitaman yang kini bau busuk seperti lumpur panas karena embun yang menyucikannya hilang terpanggang menjadi uap yang lebih insubstansial.

***

Dengarkan! Lihatlah mukanya yang menjadi asam dan kerucut! Denting piano itu rombeng oleh orang-orang bodoh yang berjalan-jalan; laki-laki berkumis yang hanya bisa menggunakan kemarahan dan mencak-mencak seperti wanita, memakai jaket tebal, merokok dengan gobloknya, lalu duduk di pojokan jalan bersama becak sambil petantang-petenteng seperti ayam jago yang memperebutkan betina. Lalu dengan tanggung jawab yang bau tai kucing mereka menyerok dedaunan kering dari pojokannya, menyiramnya dengan bensin, menyulutnya, mengasapinya, lalu menghirup baunya dengan nikmat. Tubuh mereka bergelinjang dalam kenikmatan surgawi yang jauh diatas rokok yang mereka isap. Asap membubung tinggi, menyebar luas ke seluruh samudra atmosferik; kabutnya yang abu muda sekarang dominan dalam palet pagi hari Minggu itu. Denting piano rombeng teroksidasi oleh banyaknya CO2 dan bodohnya orang-orang yang menyukai CO2, lalu orang-orang itu akan mulai banting-bantingan, memecahkan kaca bangunan, menyetel musik heavy metal keras di udara dan memulai demonstrasi. Kepada pemerintah, kepada Tuhan, kepada orang-orang yang mencoba menghentikan mereka. Padahal orang-orang itu hanya ingin sehat, namun tetap saja heavy metal (tanpa komprehensi yang jelas) dan kebodohan saja yang berjaya. Yang ingin kemaluannya merasa nikmat: dioral, dikocok, digoyang-goyang, pokoknya itu saja yang utama. Estetika bertransformasi rupa menjadi keserupaan-dengan-ego. Apapun yang sama dengan nafsu adalah indah. Maka konsep anarki dan hilangnya sel-sel kelabu dalam otak (seperti yang selalu dikatakan oleh Poirot) juga menjadi sesuatu yang indah, yang bisa membimbing tubuh menuju orgasme. Asap tipis bau membakar oksigen dalam udara; denting piano menjadi rombeng.

Siang menjadi rombeng, hanya terik matahari dan sisa-sisa partikel debu saja yang tersisa. Dunia terdiri tak lebih dari hidung yang mampat dan baju-baju yang berat menggelayuti tubuh. Sisa pagi yang kental, gelap, dan suram namun kontempatif ataupun suhu dinginnya yang segar jelas tidak lagi diingat oleh wajah Bumi sebelah sini. Ia lupa saja. Orang itu pun dibuat lupa; orang yang tadi bersandar pada railing pagar menatapi bayang-bayang dalam mentari yang telat bangun, orang yang kilasan cahayanya berputar dalam otaknya saat gelap lalu tercuci denting piano. Ia lupa, Bumi pun lupa. Yang ingat hanya matahari, dengan penuh dendam menaburkan debu dan menggoreng dunia dalam minyaknya berupa asap daun yang terbakar. Dengan penuh sukacita matahari melawak hingga terbahak-bahak mendengar lawakannya sendiri, tentang seorang manusia yang melemparkan cardigan, kaus buntung, dan celana trainingnya hingga telanjang bulat, seluruh kulitnya dijilati oleh debu halus yang menggantung, lalu mondar-mandir dengan gundah. Manusia-manusia ini berkeliaran di pusat perbelanjaan, memilih tempe untuk dimasak atau CD untuk diputar di rumah. Kata manusia itu, ini belum cukup, kulit ini harusnya ikut lepas: seluruh kulit hangus yang berpasir, rambut yang kasar seperti kawat, tungkai, kepala, alat kelamin, kuku, leher, punggung, dan telinga… harusnya semuanya ini juga lepas terburai hingga berhamburan! Tidakkah itu adalah epitom dari kenyamanan? Lagi-lagi mentari tergelak. Karena, jika seluruh tubuhnya dipreteli seperti itu, bukankah tak ada lagi yang tersisa dari tubuh manusia itu kecuali seonggok daging bernama jantung (yang terus saja berdenyut dug-dug-dug dengan keras kepala) yang tersambung oleh selang-selang ke sebotol otak? Maka aku akan menyinari mereka, well-done, kata sang Matahari, hingga kerontang seperti keripik paru di gerai camilan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s