Prima Causa dan Problematika Tuhan

creation-of-adam

Can omniscient God, who
Knows the future, find
the omnipotence to
change His future mind?
— Karen Owens

Konsep tentang ‘Tuhan’ adalah salah satu pertanyaan filosofis paling klasik. Sejarah menunjukkan dengan gamblang bahwa penggugatan manusia akan ‘Tuhan’ telah dimulai bahkan semenjak kehidupan paling awal sekalipun. Pada zaman awal kehidupan manusia di muka bumi, animisme berkembang sebagai bentuk dari interpretasi manusia terhadap sebuah kekuatan yang melebihi manusia. Kemudian, dinamisme perlahan mulai berkembang juga sebagai sebuah gambaran imajinatif mengenai afterlife.

Melompat beberapa generasi ke depan, polytheisme kemudian mulai berkembang dalam kelompok manusia yang sudah mulai mengenal sistem sosial. Konsep mengenai sekelompok dewa yang mengatur alam semesta berikut tugas-tugasnya, spesifikasinya, dan tingkah uniknya dapat dideteksi keberadaannya di Mesir Kuno, Mesopotamia, Cina, India, Yunani, Romawi, dan Norwegia (Viking). Polytheisme sebetulnya adalah penggabungan antara folklore (terlihat dari konsep budaya yang dimiliki pada dewa) dan animisme (pemujaan terhadap anima alam – terlihat dari dewa/dewi yang memiliki atribut alam tertentu).

Namun, sesuai dengan hukum seleksi alam mengenai memetika agama, pada akhirnya agama Abrahamik-lah, yakni Kristen, Islam, dan Yahudi, yang akhirnya bertahan sebagai agama-agama besar yang kini masih dianut oleh sebagian besar penduduk muka bumi.

***

Pada awalnya, teisme memunculkan sebuah nama, ‘Tuhan’, untuk menggambarkan sesuatu tak kasat mata yang memiliki kekuatan yang lebih tinggi dari manusia. Sesimpel itu. Seiring perkembangan zaman, Tuhan kemudian mulai mempunyai definisi yang lebih banyak dan lebih beragam lagi, seperti Maha-Mengetahui, Maha-Kuat, Maha-Pengasih, Maha-Pengampun, dan sebagainya. Tuhan pun mulai diasosiasikan dengan satu bentuk budaya tertentu yang dinamakan ‘agama’. Konstruksi Tuhanisme yang pada awal perkembangannya mempunyai bentuk berupa filosofi mulai berevolusi menjadi sebuah budaya (seperti terlihat pada masyarakat polytheisme), hingga pada akhirnya, sekarang, agama adalah konstruksi sosial dengan fungsi kontrol layaknya hukum.

Evolusi ini berlangsung selama ribuan, bahkan puluhan ribu tahun. Selama itu, Tuhan telah menjadi bagian tak terlepaskan atas sejarah manusia. Agama pun menjadi salah satu bentuk budaya itu sendiri. Tentu saja, jika ada tesis berupa ‘agama’ sebagai kontrol dalam masyarakat, antitesis pun mulai tumbuh dalam kebudayaan. Teisme, sebagai tesis, kemudian di-repel dengan ateisme. Manusia kemudian menginjak ke fase selanjutnya dari konsep Tuhan, yakni penggugatan atas eksistensi Tuhan.

Ateisme muncul sebagai pemberontakan atas konstruksi agama yang begitu kuat mencengkram masyarakat. Doktrinasi terhadap pikiran atas nama agama kemudian dikritik sebagai pembunuhan terhadap kritisisme pikiran. Apalagi, agama kemudian terbukti menjadi salah satu motif terkuat yang dimiliki manusia untuk menumpahkan darah. Peperangan terbesar sepanjang masa terjadi salah satunya adalah karena perbedaan ideologi agama. Tidaklah begitu mencengangkan ketika kemudian beberapa orang mulai mempertanyakan sejauh apakah agama menjadi esensial dalam kehidupan sosial. Dan ateisme pun berkembanglah.

Pertanyaan utama mengenai hubungan antara teisme dan ateisme adalah: Adakah sesuatu yang dinamakan Tuhan?

Sebetulnya konstruksi seperti apakah Tuhan itu? Untuk menjawab pertanyaan ini, Thomas Aquinas telah memberikan beberapa ‘bukti’ analitis mengenai keberadaan Tuhan. Menurut Aquinas, Tuhan ada sebagai sebab dari eksistensi benda fisik. Segala eksistensi benda fisik yang ada di dunia ini, jika ditelusuri ke belakang, mau tidak mau harus memiliki sebuah titik awal. Titik awal inilah yang kemudian disebut ‘Tuhan’. Seharusnya ada saat dimana tidak ada satupun benda fisik yang mewujud. Namun, karena saat ini benda fisik tersebut ada, maka ada suatu hal non-fisik yang memfabrikasi benda fisik ini menjadi ada. Substansi non-fisis itulah yang dinamakan ‘Tuhan’.

Sampai sini, telah dibuktikan bahwa eksistensi membutuhkan ‘Tuhan’. Ateisme kemudian menggugat bahwa jika regresi terhadap eksistensi membutuhkan suatu awal untuk membuat eksistensi menjadi ada, maka siapakah yang membuat eksistensi Tuhan menjadi ada? Retorika seperti ini sangat lumrah digunakan. Namun permasalahannya adalah: dalam asumsi Aquinas, Tuhan adalah sesuatu yang non-fisik. Kita semua paham bahwa sesuatu yang berwujud fisik membutuhkan suatu awal dari keberadaannya – dari mana ia terbentuk, bagaimana proses pembentukannya, dsb. Namun, apakah sesuatu yang non-fisik bekerja menurut prinsip yang sama? Seperti apakah bentuk regresi yang dilakukan untuk menelusuri sesuatu yang non-fisik? Toh definisi mengenai non-fisik pun sama sekali tak terbayangkan dalam benak manusia. Sehingga, suatu prinsip lain pasti mendasari sistem ruang-waktu eksistensi non-fisik; hanya saja, pengetahuan manusia mengenai fisik tidak akan pernah bisa diterapkan ke dalam jenis eksistensi non-fisik. Sehingga, kesimpulannya, Tuhan, sebagai non-fisik, dibutuhkan oleh eksistensi benda fisik sebagai titik awal.

***

Persoalan kembali muncul saat sifat-sifat Tuhan dijabarkan. Sifat Tuhan yang omnipoten (Maha-Kuasa) dan omnisien (Maha-Mengetahui) bekerja dalam satu paradoks seperti yang diutarakan dalam kutipan bait Karen Owens di awal tulisan ini. Kemudian, apakah Tuhan berbicara pada manusia? Menunjukkan dirinya pada manusia? Apakah Tuhan adalah Yesus, dan seterusnya. Hal seperti inilah yang terus menerus di-hammer oleh kaum ateis untuk dijawab oleh kaum bertuhan.

Permasalahan utama dalam perbincangan mengenai Tuhan menurut saya adalah bagaimana Tuhan seringkali disatubangunkan dengan agama. Secara logis, Tuhan, seperti pada asumsi Aquinas, adalah semata-mata titik awal, tanpa sifat-sifat yang serba omni (segala maha) ataupun penjelasan deskriptif lainnya. Saat kita melompat menuju deskripsi mengenai Tuhan, hal itulah yang sebetulnya tidak terbukti. Dengan kata lain, deskripsi mengenai Tuhan adalah bagian dari indoktrinasi agama itu sendiri. Lebih jauh, saat Tuhan disamadengankan dengan agama, maka Tuhan menjadi muara dari segala sesuatu atas nama agama. Menurut saya, agaklah tidak masuk akal jika Tuhan kemudian dijadikan dasar dari konsep budaya masyarakat, dalam hal ini, agama. Alasannya adalah karena toh definisi Tuhan sebagai sesuatu yang non-fisis pun tidak dapat digambarkan oleh manusia sebagai satu zat yang fisis. Bagaimana mungkin segala hal seperti moralitas kemudian disandarkan atas nama Tuhan?

Menanggapi ateisme dalam masyarakat modern yang sekarang kita hadapi, saya kira pertanyaannya bukan lagi ‘Apakah Tuhan itu ada atau tidak?’. Keberadaan Tuhan jelas dibutuhkan untuk menjelaskan eksistensi dari benda fisik. Namun, penggugatan yang lebih tepat adalah ‘Apakah deskripsi Tuhan menurut agama itu sudah tepat?’

Selama ini, agama menjadi adiluhung karena agama membonceng sifat Tuhan sebagai kekuatan yang menciptakan manusia – kekuatan yang lebih besar dari manusia – sehingga otomatis memiliki kapasitas kebenaran yang lebih tinggi dari yang dapat dinalarkan oleh manusia. Jika rantai tandem ini dipotong, maka agama kemudian menjadi sama relatifnya seperti perangkat hukum negara – sebuah konstruksi manusiawi yang bergerak dalam batas budaya, ruang, dan waktu. Saya rasa inilah hal yang sebenarnya diperjuangkan oleh ateisme – pemutusan rantai tandem aksioma Agama = Tuhan.

Tuhan adalah Tuhan. Kita tidak mungkin mengembeli Tuhan dengan maha ini dan maha itu, karena deskripsi mengenai Tuhan itu sendiri sangatlah tidak tergambarkan. Tuhan hanyalah semata-mata awal non-fisis dari keberadaan manusia. Dan, sebuah garis pemisah harus ditarik antara Tuhan (yang sudah pasti ada) dan intervensinya terhadap kehidupan manusia, dalam hal ini, agama. Karena sifat Tuhan yang tidak mungkin dapat dijabarkan, maka kemudian kemahabenaran Tuhan yang terefleksikan dalam keabsolutan agama menjadi hilang. Dan, saya rasa cukup wajar jika disimpulkan bahwa agama dalam level yang proporsional hanyalah reduksi dan nama lain dari sebuah konstruksi budaya dengan aturan hukum – ibarat sebuah negara imajiner tanpa batas-batas geografis, melainkan batas-batas ideologis.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s