lucifer-an-angel-of-music

Faith: Sin of the Archdevil

My hands, they’re small I know
But they’re not yours, they are my own,
And, I’m never broken

“Hands”, Jewel—

Pembicaraan ini akan menjadi tentang tiga hal: pertama, mari mendistorsi sedikit lagu penuh harapan Jewel yang berjudul “Hands”. Kedua, jika atmosfer masih kental dengan sisa-sisa wangi opor ayam dan ketupat lebaran, maka aftermath stereotip ‘saling bermaafan’ masih bergaung pula. Mari bicarakan itu dalam neuronic rendezvous ini. Ketiga, pembicaraan ini akan memasuki ranah sentimentalisme. Sedikit saja, seperti a shot of Espresso single: namun rasa kuat yang tertinggal di mulut setelah pembicaraan tentang sentimentalisme, walau dalam porsi sedikit, cukup membuat eneg. Sehingga, percayalah, enough is enough; distorsi, ‘saling memaafkan’, dan sentimentalisme adalah sebuah kombinasi yang cukup iblis sehingga pedas ala Jabanero-nya mengingatkan Anda pada rasa pedas-pekat-apak – pasti Anda ingin hindari. Percayalah.

Pernahkah Anda mengenal sesosok makhluk yang lebih jahat dari Iblis? Rasanya Iblis merupakan konkretisasi dari sisi hitam ide dualistik ‘Gelap vs Terang’ yang secara arketipikal inheren dalam kalbu manusia. Iblis adalah teman lama setiap manusia; sesuatu yang, bizarrely, secara konsensus diterima sebagai wujud kejahatan.

Namun, pada hakikatnya, pernahkan iblis di-break down menuju sebuah bentuk yang lebih abstracted (tersarikan)? ‘Iblis’ adalah sebuah konsep yang sangatlah baur. Seolah-olah, ada tiga entitas yang berbeda: manusia, sebagai subjek; keburukan, sebagai antitesis dari kebaikan; dan Iblis, sebagai personifikasi dari keburukan. Sebutlah ini dekonstruktif atau apalah, namun pertanyaan ontologis terhadap pandangan ini perlu dilontarkan: benarkah seperti itu? Benarkah paradigma bahwa manusia adalah spektator yang berada di luar sirkumferens eternal-Ragnarok Baik vs. Buruk seperti yang dikonsepsikan dalam pengejawantahan Iblis sebagai sang Buruk? Jika elemen ‘Baik’ diwakili oleh the Holy Lord (sebut: Tuhan, tapi saya tidak mau terlalu religijargonistik) dan elemen ‘Buruk’ diwakili oleh Iblis, benarkah manusia hanya diombang-ambingi di antara dua gravitasi yang berseteru ini?

Tidakkah konseptualisme tidak nyata? Bergerak dari premis bahwa kenyataan adalah eksistensi alih-alih konsep dogmatik/kanonik, maka paradigma ‘sebagai spektator’ seperti ini tentulah goyah. Bergerak dari kenyataan yaitu eksistensi manusia, maka apapun atribut yang ada dalam konstelasi hidup, dualistik maupun tidak, selalu berporos pada manusia. Begitu pula dengan atribut ‘baik’ dan ‘buruk’ – mereka hanyalah kutub-kutub ekstrem (putih vs. hitam) yang mempunyai monochromatic hue range (abu-abu) sangat luas. Dan di range itulah eksistensi manusia berada. Maka konsep bahwa ‘keburukan/kejahatan’ = ‘Iblis’ adalah sebuah puitisasi yang a little too metaphoric, karena toh keburukan atau apapun itu, semua adalah bentukan dari ekstremitas manusia.

Menghilangkan kebauran/keabstrakan/ketiadabentukan Iblis dan mengeksistensikan konsep ‘jahat’ pada entitas bernama manusia, pertanyaan ‘siapakah yang lebih jahat dari iblis?’ dapat dengan mudah, trivia-quiz-jovial, dikonkretisasi: manusia!

Gerak spektrum gelap dalam monokrom manusia adalah mutlak dan dominan. Mengapa? Bukankah, seperti dalam hukum kartu Clow yang dilukis Clamp dalam Cardcaptor Sakura, gelap dihapuskan oleh terang? Puitis. Derapkan selop-selop Kartini, namun stanza prosaik ini tidaklah realistik bahkan dalam sense yang paling dasar sekalipun. Dominansi malam dalam spektrum abu-abu bijih nyawa makhluk bernama manusia tumbuh dari selfishness gen – sebuah daya yang secara dasar sudah terprogram dalam fisiologi psikis manusia. Gen yang selalu akan berpikir ‘lestarikan dulu diri sendiri agar tidak extinct’ akan secara mutlak mendeprioritaskan set of genes yang lain, tentu saja. Jika Shinichi Kudo bertanya, di bawah guyuran hujan New York dengan gurat somber pada wajahnya yang animik, ‘manusia perlu alasan untuk membunuh orang lain, namun untuk berbuat baik, perlukan alasan?’, maka mungkin Gosho perlu me-recheck teori genetika Darwin, lebih jauh lagi pada studipolaperilaku gen Richard Brodie. Reality check? (sebuah frase sarkastis yang suka sekali saya lontarkan pada puncak sarkasme sebuah speech debat; entah sebuah kebiasaan ‘baik’ ataupun ‘tidak’, enhtah shade ekstrem hitam atau hanya abu-abu tua pada range monokromatik saya).

Mari masuk ke prong pertama dari tiga yang saya janjikan di awal tulisan. Simaklah chorus lagu “Hands” (Jewel) yang saya kuotasi di awal tulisan. Sebetulnya, jika menelaah lagu ini secara holistik, kesan sarkastis sebetulnya jauh dari horizon lirik yang kita lihat/dengar. Soalnya, dalam lagu yang cukup gospelistik ini Jewel bercerita tentang kekuatan yang selalu ada di balik ‘small hands’ kita, walau didera cobaan. Namun, jika fokus ditumpahkan pada chorus-nya, maka fenomena selanjutnya yang mendorong mengapa judul tulisan ini adalah ‘Faith: Sin of the Archdevil’ akan terkuak.

“Hands” bercerita tentang bagaimana tangan-tangan kecil (yang notabene tanpa-kekuatan, tentu saja) adalah ‘milik saya’ (sehingga saya bisa berusaha sendiri, terima kasih, tidak usah bergantung pada so-called-suspectedly-hypocritical ‘bantuan dari Anda’), dan, jika saya tidak pernah bergantung pada tangan Anda dan mengandalkan tangan saya yang kecil saja, maka saya tidak akan pernah retak dan terbelah seperti kerak lempeng yang teretas gempa pra-tsunami.

Pesan ini, walau terdistorsi (disebut demikian karena kesan ironis tentang ‘aloneness’ bertentangan dengan spirit ‘soothing, no-need-to-worry kinda thing’ yang ingin disampaikan Jewel), adalah pesan yang sangat relevan dengan konteks realistik melihat analisis sebelumnya mengenai betapa manusia memiliki dominansi egosentrisme yang mendeprioritaskan ‘keeping other people’s heart unbroken’. Untuk itu, sebuah dosa yang besarlah – karena itu sangat tidak dianjurkan – bagi makhluk berhati untuk menitipkannya pada manusia, yang akan menganggapnya tidak penting dan melihatnya berakhir jatuh berkeping karena kurang penting dibanding atribut individu mereka sendiri. Penitipan ‘hati’ itu, sebuah verba berjudul ‘faith’ , forbidden. Setidaknya bagi kewarasan yang mempunyai tujuan ‘I’m never broken’. Saya duduk di kafe dan memesan latté bersama Jewel – kami berada di bench yang, walau bertangan kecil, tetap berangkat melintasi benua Galbadia dan hidup di solitary island.

Prong kedua berputar di sekitar spirit ‘ayo mengumandangkan minalaidinwalfaidzin’ in tribute to vorteks tradisi lebaranistik (sesuatu yang terkutuk, tentu saja, seperti yang saya katakan dalam SMS lebaran yang saya kirim atas nama buncahan pulsa, melankoli makhluk sosial, dan kekosongan waktu). Ayo meminta maaf, bukankah itulah roh dari festival Aid-al-Fitr?

Redundan, tidakkah? Sebab, toh pada intinya, dengan dominansi selfishness pada psikologi dasar manusia yang inevitable sehingga menyebabkan jiwa-jiwa tanpa-memercayai-orang-lain yang hidup di sebuah Island of Solitude, bukankah luka-luka dan hancuran-hancuran yang terjadi di masa lalu tidak kemudian ada mend-nya? Bee Gees menyenandungkan pertanyaan ‘how can you mend a broken heart?’ yang sepertinya (dicoba) dijawab oleh Indecent Obsession, yang mengenal seseorang yang ‘really know how to start fixing a broken heart’. Agak terlalu klise, tidakkah, jika seperangkat ‘peranti emosional’ dapat kemudian menyatukan sebuah patung fragil bernama hati yang terfragmentasi (difragmentasi) oleh sebuah spirit mutilatif, baik on consciousness’ cue maupun tidak, di masa lalu. Saya tidak menafikan kenaifan Daoming Zi, Meteor Garden, yang terkenal dengan perkataan ‘jika ada maaf, buat apa ada polisi’, namun, sang tuan muda bodoh, yang saat itu masih ‘berkepala burung’, memiliki poin yang valid.

Toh bagaimanapun, sebagai lip service, ataupun hipokrisi ala coklat putih, tampaknya sebuah spirit redundan bernama ‘meminta maaf’ akan terus ter-flourish. Dalam HBO’s Addicted (yang kemudian muncul dalam talk show Oprah Winfrey Show), seorang mantan pecandu bercerita bahwa biasanya dalam kebohongan orang, saking hebatnya manipulasi kebohongan tersebut, sehingga bahkan si pelakon bohong pun percaya dengan kebohongan itu, dan sebuah fiksi menjelma menjadi realitas baru. Hal ini akan mengabutkan kebenaran dari yang dikatakan Drew Barrymore: “Masa lalu seringkali pahit dan penuh kehancuran, namun merekalah yang membuat siapa dirimu hari ini.” Inilah yang semoga tidak berhasil dikikis oleh si tradisi redundan ‘meminta maaf’: kebenaran bahwa a shattered heart tidaklah me-regroup bak batalyon yang dirawat Florence Nightingale. Dan tidak ada puitisasi bahwa ada seseorang seperti Florence Nightingale yang mampu tend to those kind of wounds. Yang ada hanyalah bukti historis yang akan membangun siapa kita di masa sekarang – pil pahit kenyataan yang sering diilusikan para pemimpi romantis di balik delusi ‘hati sembuh yang memaafkan’.

Prong ketiga sangatlah menarik: sentimentalisme. Seperti yang saya telah wanti-wanti di awal tulisan: sentimentalisme apak. Tang-nya terasa, tertinggal dan menari-tango di olfaktorial cukup lama dan cukup pahit-pedas, mengganggu seperti cabai busuk yang berlumur segala bau kotoran. Saya berbicara hati yang rusak, broken heart, dan sebagainya. Namun, untuk meredakan sedikit dari gravitasi hebat medan jurang sentimentalisme romansa, tentu saja saya tidak membicarakan konteks sesempit dan se-usia-13-tahun yang bisa diungkapkan Cinta Laura Kiehl dalam sinetron Cinderella: broken heart pacar-perpacaran. Buang. Seperti sebuah risk-analysis seorang agen perusahaan asuransi, yang saya lakukan adalah melihat sebuah verba bernama ‘faith’ yang, menurut saya, adalah sebuah ekstremitas ‘buruk’ yang tidak layak dituju dalam sebangun sosok bernama ‘manusia’. Saya, dari kafe di mana saya memesan latté sebelumnya (mood saya rasanya mengatakan segelas frappuccino vanila lebih pantas ditukar dengan beberapa uang koin dan beberapa uang kertas di kafe itu), berderap pada konklusi ‘I’m never broken’-nya Jewel.

Lebih nyata lagi, tak hanya sekedar analisis namun kumpulkanlah statistik tentang berapa banyak manusia-manusia yang dapat dipercaya. Tidakkah mereka menari dalam numeral yang kosong? Inilah teriakan LANTANG saya dalam poin sentimentalisme: personal experience. Dalam kepercayaan yang semula ‘ada’, lalu luruh menjadi serpih-serpih terurai yang menggerus arteri dan vena: sebuah krusifiks paku-paku kepedihan. Tidakkah statistik bukti (walau level personal)? Entahlah, generalisasi adalah dosa, sehingga saya hindari, namun begitu pula faith, sehingga juga saya hindari.Fair enough.

Dalam pencarian pencapaian-nirwana derap ‘I’m never broken’, sebuah koefisien sosial yang (ternyata) hanya redundansi belaka kecuali pada konteks lip-service sosialnya rasanya hanya menjadi subliman gas tipis yang memukul windshield – terabas saja dengan wiper, when appropriate.

Dan, ironi terakhir yang tersaji di atas pinggan adalah, jika Anda awas, beberapa kata ‘percayalah’ yang Anda baca di paragraf-paragraf awal. Saya manusia, for the record. Namun, saya meng-egg kepercayaan terhadap saya? Jika tulisan ini adalah sebuah frase, maka tulisan ini adalah pengejawantahan contoh baik sebuah oksimoron. Atau inkonsistensi, untuk mencapai sebuah jargon yang lebih debatistik.

Sebuah tes terakhir: percaya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s