Gosip TV: Tanpa Otak, Tanpa Bobot, Penuh Bisa

Dingin menghentak – mentari belum pol menghangatkan konkret-konkret yang membangun kota; debu semerbak – para penghuni sibuk menyapu. Begitulah jam sepuluh pagi. Semalaman suntuk saya memaksa kedua bola mata terpatri kencang pada kilasan monitor komputer. Dengung CPU memeluk erat telinga saya dalam amplitudo yang statis – bagi kuping saya bagai robot pecinta yang datar dan mekanis. Cangkul bagai ingin merangsek keluar dari dalam jaringan lembut lambung dan usus – sinyal lapar yang menggelegar – namun di dapur hanya ada seonggok bayam kuah yang asin, bak ganggang kisut di ceruk payau.

Bosan namun terlalu letih untuk menggarap gawean; lelah menghadapi monitor saya yang hitam, angular, dan begitu-begitu saja bagai bapak-bapak uzur – outputnya juga tidak seberapa beragam, paling hanya Facebook dan beberapa folder saja. Saya mencoba menghabiskan waktu di depan televisi sambil menunggu matangnya nasi yang sedang ditanak. Tentu saja, paham betul akan kebiasaan televisi Indonesia, saya tidak terlalu berharap banyak akan terhibur, namun saya terlalu iseng untuk melakukan hal lain.

Saluran TransTV menampilkan beberapa aktor Kaukasian dalam sebuah film keluarga. Tadinya saya pikir mending, namun audio-nya ternyata disulihsuara. Parah. Saluran TPI berisi sinetron religi yang menampilkan seorang mas-mas usia-tanggung memohon dengan sangat kepada Allah untuk mendapatkan pacar. Betapa cerdas, pikir saya. Saluran lain tidak lebih mending karena paling hanya berisi talk show yang tidak menarik. Pada akhirnya, saya terhenti pada sebuah suara yang menjelaskan sesuatu dalam bahasa Indonesia beraksen Inggris.

Rupanya, VJ Marissa sedang diwawancara di sebuah program gosip Global TV. Marissa ditanya perihal pernikahannya dan seperti apa tipe lelaki idamannya. Marissa kemudian menjawab bahwa ia butuh seorang yang “settle-down” bukan dalam arti materialistis yakni punya ekonomi yang mapan seperti rumah, mobil, atau tabungan; namun lebih ke arah ‘cara berpikir’. Marissa menilai pasangan hidup yang sesuai harus ‘tidak ingin terlalu pecicilan lagi, tidak main kesana kemari, mau diajak susah’, dst. Ia menyatakan bahwa kemapanan materi bisa diusahakan dengan mudah, namun jika pernikahan berlandaskan mental yang belum mapan dan serius, mudah sekali untuk kandas dan cerai, apalagi di dunia artis.

Wawancara dengan jawaban yang rupanya cukup berbobot itu selesai. Scene beralih ke dua orang pembawa acara yang mencoba memberikan ‘ulasan akhir’ mengenai reportasi tadi. Pembawa acara #1 berambut ikal-salon warna oranye-rendang dan memakai tank-top warna ungu dengan bawahan hot-pants khaki; pembawa acara #2 menata rambut hitam panjangnya dalam rebonding super-lurus, tentunya lengkap dengan poni miring, dan mengenakan gaun strapless hijau. Mereka terkikik geli atas jawaban Marissa, lalu mengulas seperti ini:

MC 1: “Ih, Marissa ada-ada aja deh, emangnya bakal mau kalau pikirannya dewasa tapi ga ada rumah sama mobil? Jadi apa nanti? Ibu rumah tangga??” sembari tertawa mengejek.

MC 2: “Paling resepsi kawinannya ga ada yang bayar tuuh…!”

MC 1: “Dia sih (mengacu pada Marissa) bisa aja bilang ga mau materialistis, tapi jaman sekarang mah orang harus realistis! Yang penting uang dulu!”

MC 2: “Palingan dia juga U…U…D…! – ujung-ujungnya duit!”

Gelak tawa.

Polah pembawa acara gosip di televisi: centil, nyinyir, penuh kelakar, tapi sering tidak memperhatikan sensitivitas terhadap bagaimana apa yang mereka katakan mempengaruhi pandangan masyarakat terkait konsumerisme, ekonomi, dan sense of self-worth. Contohnya adalah kata 'kampungan'.
Polah pembawa acara gosip di televisi: centil, nyinyir, penuh kelakar, tapi sering tidak memperhatikan sensitivitas terhadap bagaimana apa yang mereka katakan mempengaruhi pandangan masyarakat terkait konsumerisme, ekonomi, dan sense of self-worth. Contohnya adalah kata ‘kampungan’.

Polah seperti ini umum mewarnai ranah kehidupan televisi di Indonesia. Sudah menjadi kritik publik yang santer terdengar bahwa sinetron selalu menampilkan kemewahan material berupa rumah, mobil, atau pakaian yang terlalu berlebihan dan tidak nyata. Sudut konsumeristik kehidupan pribadi para selebriti juga kelewat sering diekspos: yang paling sering adalah belanja di mal atau makan dan jajan di tempat mewah.

Yang paling menyebalkan, konsep-konsep sedemikian tidaklah pernah diucapkan secara gamblang sebagai suatu pernyataan. Mereka adalah benang-benang yang terajut dalam sentilan, komentar-komentar ringan, ataupun obrolan canda. Seperti kedua pembawa acara centil di atas – jelas bahwa mereka harus dianggap sebagai dua wanita bermake-up tebal yang sedang bercanda; bagaimanapun, pesan implicit obrolan mereka mengenai bagaimana pandangan non-materialistik Marissa didiskreditkan juga jelas terpapar.

Dalam tayangan sinetron, misalnya, komentar ringan yang sering diucapkan oleh gadis-gadis ceriwis bermulut kecubung adalah “Ih, dasar anak pembantu!” (mengacu kepada profesi pembantu rumah tangga [PRT], atau ‘housemaid’, yakni pekerja, biasanya wanita, yang membantu urusan RT seperti masak, mencuci, mengepel dan mengelap perabotan, dan mengasuh anak). “Pembantu” dilanjutkan dengan serapah seperti “kampungan” yang memiliki derivatif “nggak elit” atau “miskin” yang berarti tak memiliki barang-barang ‘gaul’.

***

Beberapa tahun yang lalu, seorang PRT berusia 18 tahun bekerja di rumah saya. Sang PRT cukup aneh, menurut saya, karena ia tak pernah mau memakan tempe atau tahu atau sayur lodeh. Mulanya saya kira ia hanya tidak suka sayur. Akan tetapi, setelah diperhatikan, ia hanya mau makan daging-dagingan, dan tidak terlalu suka nasi. Jika ditinggal sendiri di rumah, beginilah menu yang ia siapkan untuk dirinya: telur orak arik dengan saus, roti dengan selai coklat dan selai kacang, susu MILO, biskuit, dan puding. Saya bingung mengapa selera sang PRT kok Barat sekali. Selain itu, uang jajan dan gaji yang ia dapatkan selalu digelontorkan di toko aksesoris HP dekat rumah. Pada akhirnya ia terpergok sering kabur tengah malam – melewati pintu jemuran di atap rumah saya – untuk bertemu dengan cowok-cowok bermotor dan kemudian berdiskotik sampai pagi.

Tentu saja ia disuruh pulang kampung oleh ibu saya yang menjadi ketakutan. Saya hanya bisa geleng-geleng kepala soal kelakuan ini. Hobi si PRT cuma satu: menonton acara sinetron dan gosip yang ada di televisi. Ia akan menunjukkan muka marah – bagai ular kobra yang liangnya diganggu – kalau saya atau adik saya mengganti saluran televisi ke acara lain yang non-sinetron/gosip (biasanya saya pindahkan ke Metro TV atau Bioskop Trans TV; adik saya ke Naruto atau anime-anime lain). Saya hanya bisa menebak-nebak, mungkin si mbak PRT saya itu tidak rela ‘ditindas’ dan ‘diinjak-injak’ sebagai pembantu (kalau saya memaksa pindah saluran TV). Mungkin si mbak tidak suka dianggap ‘kampungan’ sehingga memilih makan makanan yang menurutnya ‘kotaan’, menenteng hape berkilauan, dan mencapai ekstase di arena dunia-gemerlap (untuk yang terakhir ini, saya ingin sekali menyindirnya bahwa seumur hidup saya selalu tinggal di kota namun saya lebih jarang ajojing di klab malam daripada dia).

Bagi saya, keluarga saya, dan lingkungan pergaulan saya, menonton gosip dengan ulasan tak berotak seperti itu tentu menyebalkan, but we still know better. Kadang-kadang saya membayangkan seperti apa efek parade materialisme dan sepetan-sepetan mengenai ‘kampungan’, ‘pembantu’ atau semacamnya jika jatuh pada telinga penduduk-penduduk daerah atau berasal dari golongan ekonomi yang kurang mapan, yang notabene hanya mengenyam pendidikan yang tingkatnya sederhana. Survei membuktikan bahwa rating sinetron dan infotainment sangatlah tinggi – karena mereka sangatlah populer sebagai tontonan utama dan mungkin satu-satunya hiburan bagi penduduk yang tinggal di pemukiman padat, desa-desa, dan daerah-daerah. Would they know any better?

Kadang saya berpikir, mengapa kata ‘kampungan’ berkesan begitu jelek. Mengapa dicap ‘udik’ menjadi sangat menakutkan bagi banyak orang? Memang apa ruginya lahir di kampung? Rasanya tidak ada celanya menjadi pembantu dan tak punya terlalu banyak uang. Bahkan, arti dari ‘kampungan’ sendiri sama sekali tak terjelaskan! Apakah ‘kampungan’ mengacu kepada baju yang lusuh? Pada logat bicara yang kental dengan bahasa daerah? Saya betul-betul tak bisa mendapatkan suatu maksud yang konkret. Yang jelas, kata ini memiliki kesan yang sangat jelek. Kata ‘kampungan’ adalah olokan sinis yang secara inheren memiliki tujuan untuk mempermalukan orang lain. Bahayanya, kata ini mudah sekali disisipkan dalam pembicaraan yang sekilas terkesan tak-bersalah – dan lebih bahaya lagi saat terlihat kata ini begitu populer sehingga penggunaannya yang mendiskreditkan beberapa kelompok menjadi sangat lumrah.

Harus diakui, bahwa saya tidak bisa mengatakan bahwa kedua pembawa acara itu sepenuhnya salah. Tak bisa dipungkiri uang dan kemapanan materi adalah suatu hal yang penting. Namun poin ini bergeser, mengikuti kata-kata bijak yang mengatakan bahwa “tertawa adalah senjata yang paling mematikan”. Kondisinya bukan lagi apakah respons mereka mengenai perkataan Marissa betul atau tidak, namun mengenai gelak tawa yang menyelubungi. Begitu pula dengan ‘kampungan’. Sebetulnya disebut ‘kampungan’ tidak berarti apa-apa, namun esensi ditertawakan itulah yang tak tertahankan mengesalkannya. Sensitivitas ini mutlak diperlukan, apalagi dalam konteks televisi nasional yang notabene ditonton oleh seantero negeri, khususnya, untuk kategori pemirsa yang tidak terlalu awas.

***

Sebuah pikiran acak muncul di beberapa ikat ganglion otak saya pada akhir tulisan ini.

Menertawakan itu mudah, ringan, sering tidak sengaja. Namun, walau kesannya cuma bercanda, tanpa bobot, atau sambil lalu saja, efeknya permanen bagai anak kecil tanpa dosa yang bermain-main berlarian keliling rumah menorehkan spidol permanen ke sofa linen putih susu, dinding krem, kayu berpelitur, dan kaca jendela. Coretannya jelek bagi si objek dan sulit terhapuskan. Rasanya saya mengerti mengapa cekikik mak lampir, kuntilanak, dan sejenisnya, sangatlah membekukan kuduk dan mencekik sumsum.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s