Lindsey

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Artwork: “Pavwell” (Uphie, 2009)

Angin berhembus; aura keemasan semilir. Sihir bumi beterbangan dan rasanya tidak fantastis. Sama sekali tidak sefantastis apa yang dibumbui di novel-novel fiksi yang dramatis. Malah, rasanya pahit sekaligus dingin di bibir, seperti sebongkah tanah yang luar biasa segar.

Berdiri dalam awan aura yang berkelebat bagai badai jengkerik pembawa wabah, refraksi cahaya menari-nari memasuki mata. Bagai debu, imaji-imaji mobil, gedung, dan para penghuninya yang berjalan cepat bertemperasan dalam kilasan-kilasan horizontal. Satu demi satu imaji itu bergerak, memuntir, lalu kembali hilang dalam awan aura dan digantikan imaji yang lain – dalam derap cepat kuda yang sedang berlari di pacuan. Kilasan-kilasan urban itu berjatuhan seperti hujan. Seperti biasa. Para bis dan angkot tertawa dan berkendara dalam maju-mundurnya yang staccato; para gedung-gedung berpose di atas catwalk. http dan alur situs internet berlarian bagai blitz yang berkejaran. Kumpulan manusia berkerumun dari satu halte ke halte yang lain, satu aula ke aula yang lain, merangsek dalam bubungan pepat insekta-insekta yang mirip lebah. Seluruh wajah dan figur itu bergerak bak dalam film bisu, karena yang terdengar hanyalah suara kabut mistis dan benang-benang berkilauannya yang asyik berpusar, semakin lama semakin tebal dan liar.

Lama kelamaan, seteru dalam kumolonimbus itu mencapai klimaksnya. Di puncak kresendo, gumpalan-gumpalan keemasan tersedot dengan kecepatan 180 km/jam ke dalam sebuah pusaran cahaya yang mengandung momentum yang luar biasa besar – bagai sebuah telur gravitasi berwarna luar biasa terang. Sebuah light pillar berkilas selama 5 detik penuh, membutakan para burung stimfalit nyasar dan kelompok barakuda yang mengibaskan siripnya.

Langit merona lembayung dan jambon sementara cinta menampakkan wujudnya dalam awan-awan lavender yang berpendar tipis. Sebaris halo berlarian naik dari bawah permukaan air laut, sebagai intro untuk pulau atol yang kemudian tumbuh seperti seonggok tahi coklat tua yang berbau payau.

Bumi dan air berhenti bergerak, atmosfer hening. Di atas pulau kecil itu, kepala Lindsey tergolek. Rambutnya yang hitam masai menutupi batok kepalanya – kepala itu tak berbadan. Mungkin terpenggal hempasan cahaya yang melesak semesta beberapa saat yang lalu. Tak seberapa jauh dari kepala itu, sebongkah torso tergeletak, tungkainya lengkap namun tergolek lemah bagai tanpa sendi, tanpa otot – bagai boneka marionet yang patah. Dalam kebisuan, sang badan tak berkepala gemeletak mencoba bangkit. Badannya kurus ringkih dibalut kulit putih bak pualam, goyah, beringsut sembari tersungkur seperti zombi yang baru saja terbangunkan dari lahatnya. Badan itu mendekati si kepala. Kedua lengan si badan meraih kepala, mengenggam erat kedua belah pelipis kepala lalu mengangkatnya. Sang badan “mengamati” kepala tersebut, seolah tak yakin itu adalah kepala miliknya yang entah bagaimana copot dan lepas menggelinding. Bibir yang tertempel di kepala itu merah jambu dan segar; tulang hidungnya aristokrat. Kepala itu tak berbiji mata; hanya selongsongnya yang hitam bertengger di puncak pipinya – sepasang kehampaan berwarna obsidian. Kedua lubang hampa itu bagai menguarkan sekepul awan hitam yang melayang di sekeliling mereka, bagai gas astatine yang disepuh timbal.

Di akhir pengamatan itu, si badan tampaknya merasa cukup puas dengan temuannya. Ia memasangkan kepala itu di pangkal lehernya yang sebelumnya buntung – sekarang lehernya jadi panjang dan tersambung, sekolom leher panjang yang berkulit pucat. Si pemilik leher jenjang kemudian meraba sambungannya, memastikan semua kutikula sudah terpatri pada tempatnya, mengepaskan setiap kabel saraf dan limfa, mengencangkan satu-dua baut yang sedikit longgar pada vertebra lehernya. Ia mematahkan leher barunya ke kanan dan ke kiri, melumaskan sendi-sendi yang pegal, lalu merentangkan tangannya dan melemaskan otot-otot pundaknya yang entah mengapa terasa kaku. Lindsey memandang ke sekitarnya. Ia duduk, lalu memandang laju abrasi yang mengalun menuju pantai bagai pendulum yang basah. Ia duduk untuk entah berapa lama, lalu ia tiba-tiba merasa perlu – terutama setelah kilasan imaji dan ledakan cahaya tadi – untuk menghujamkan beberapa monumen arsitektural di pulau kosong itu.

***

5 Fasa Lindsey

1. Dinding-dinding Es

Betapa indahnya jika Lindsey dapat memetik buah-buah ceri dan beri di sela-sela kegiatannya menangkap ikan. Betapa indahnya jika di sekitar Lindsey terhampar ladang jagung dengan bonggol-bonggolnya yang keemasan: para pohon jagung akan berbaris, tiap buah jagung terlelap dalam pembaringannya: daun-daun yang gontai dan layu; berselimuti surai kecoklatannya yang sering menyisip ke sela-sela tiap bulir jagung bagai jembut-jembut panjang. Betapa indahnya jika di sekitar Lindsey, buah terung dan zukini bergantung berjuntai-juntai dari para perdu dimana mereka tumbuh; perdu-perdu kerdil berambut, sulurnya rambat melilit. Namun apa daya. Vegetasi yang tumbuh di pulau itu hanyalah pohon buah nihil. Batang dan daunnya seolah-olah terbuat dari sel-sel Ketidakpastian Heisenberg. Bunganya keriput, daunnya seperti kaca yang tanpa massa jenis, dan batang solidnya bergetar-getar dalam tarikan dimensional – tiap pohonnya bagai kumpulan unsur langka yang ingin meluruh.

Lindsey mengitari pulau lima belas kali. Kaki kecilnya melangkah di atas pasir asin yang basah, torso mungilnya diterpa muson yang sesekali turun menghembus. Ia hanya menemukan kelapa-kelapa nihil itu, yang bahkan tak berdaging buah, tak bersabut. Kelapa-kelapa itu melemah menjadi tiada saat ditendang, pohonnya menyeringai dalam translusensi; bagai secara sadar ingin membuat Lindsey tetap terkurung dalam kesendirian. Lindsey menginginkan seorang teman. Ia rindu dingin, karena sengatan matahari dan kelembaban permukaan laut mulai membakar kulitnya yang kini mengelupas.

Selain itu, ia dapat merasakan aliran Mana mengalir, bagai denyut jantung kosmik yang mahabesar. Megakonstelasi itu berbisik, menggembala kabar bagai burung merpati. Bisikannya menghembuskan ramalan akan datangnya badai yang pasti: torehan-torehan yang merasuk sukma dan menyayat limfa. Menggerus empedu dan menggilas jiwa. Badai halilintar semesta di puncak ombak yang liar. Kemudian, Lindsey membiarkan aliran Mana mengajarkannya mengenai arus-arus laut dan konstelasi bintang, yang beruhubungan dengan jalannya kereta kencana para dewa dan dewi. Mata Lindsey yang kosong menangkap dengan cermat tiap pantulan dari sungai-sungai energi kosmos yang tenang dan transenden itu. Ia melihat sebuah beruang datang menunggangi sebongkah gunung es, jauh dari masa lalu sebelum Hephaestus memanggil kemarahan dan keputusasaan Zaman Es. Ia butuh iglu, maka beruang itu kemudian dipanggil. Sang beruang datang bersama keping-keping es yang diimpor dari pegunungan Himalaya. Lindsey meminta es – kepalanya bergerak-gerak, punggungnya maju mundur dan tangannya berkeletak bagai marionet yang patah.

Atas restu dari dewi penguasa Kutub dan lolongan angin selatan yang mengiris urat leher, dinding-dinding es kemudian berderap memanjat horizon. Uap air bak tertarik magnet, berkumpul, lalu langsung menurunkan suhunya sendiri dan membangun balok-balok es yang bening bak kaca yang dibekukan. Bilah demi bilah setebal setengah meter mulai berdiri kokoh, tinggi, bak menara intan yang luar biasa gemerlap ditimpa bilah-bilah cahaya Helios.

Formasi dinding es itu bagai aurora australis yang turun dari singgasananya di balik awan, lalu menjejakkan kaki di atas tanah dalam bentuk jelmaannya – berupa dinding-dinding Lindsey – yang konkret dan fisis. Halilintar-halilintar yang kelak merangsek dan menggelitik molekul-molekul permukaan pulau akan langsung dihentak menjadi beku dan kaku oleh hawa dingin yang menguar dari dinding-dinding es Lindsey.

2. Kuil

Di pulau terpencil ini, tiada asa yang terhimpit gunung untuk digali. Tiada batuan tambang kecuali hamparan kecil tanah yang basah. Maka, yang tersisa hanyalah berdoa. Berdoa supaya dewa menghujani pulau kecil ini dengan meteorit yang kaya bijih dan mineral. Lindsey berdoa, memanggil kapur, meninggikan bumi. Dia dan lantunan sutra penuh pengharapan dinyanyikan bagi roh-roh planet Metha – merajut rintihan nyiur dari ketiadaan.

Doa membahana, dunia mengatupkan telinganya, karena suaraNya sangat pengang. Doa memanggil retakan dimensi, menggabungkan dua realitas (atau mungkin lebih) dalam gerombolan multivers. Retakan menggetarkan nitrogen-nitrogen di udara dan memanggil tangis tiap partikel argon hingga air matanya keperakan berkilauan – bagai intan-intan yang melayang; hampa menggelegar di sisi ombak yang berdebur. Kemudian, pasir mengapur. Kalsit naik dari perut bumi dan memanjat udara dengan sangat lincah, mengguratkan tanduknya yang jalang ke kanan dan kiri, seperti buncahan stalagmit yang sangat aktif. Butiran-butiran batu putih naik, menubruk sesamanya dengan penuh semangat, berpusar dalam sebuah tornado raksasa bongkah-dan-serbuk, melebur satu sama lain, lalu mengerak menjadi dinding, relung, pilar, undakan, dan atap-atap berujung mencuat. Kuil itu telah bangkit dari segelnya di bawah lapisan permukaan planet Metha, sekarang berdiri di tebing gamping yang sangat tinggi.

Lindsey memandang menara itu dari bawah, berdiri di atas permukaan tanah dan mengagumi julangannya yang menorehkan segurat bebayang vertikal di horizon yang, sebelumnya, seolah tanpa batas. Dengan satu hentakan ringan dalam pijakannya, ia melompat ke udara lalu naik puluhan meter, dan mendarat ringan pada sepetak tanah kosong di hadapan kuil. Ia mengelus pintu gerbang utama bangunan yang penuh ukiran. Ia mengambil segenggam bubuk kapur yang menggunung sebagai residu dari tarian kapur yang sangat aktif tadi. Bubuk kapur itu kemudian dituangkannya ke tiap rongga matanya yang kosong. Ia memenuhi kedua rongga hidungnya dengan kapur, menahan nafasnya agar bubuk kapur itu tidak lantas jatuh. Sisanya ia jilati. Partikel kapur mulai memanggil kalor hingga berlarian melingkar di sekitar kepala Lindsey – kedua matanya kemudian menyala karena kapur yang dilalap api.

Kuil sudah berdiri. Bangunan itu diciptakan ribuan abad yang silam, lalu disembunyikan di mantel bumi. Kerak kapur bagian luarnya sedikit gosong – aliran lava yang oranye manyala sering mencium bemper-bemper kuil itu dan meninggalkan beberapa bekas cupangan yang lembut menghitam; sementara beberapa bagian dari kerak kapur dalamnya rekah, berwarna kersik yang terpanggang, karena lumut abadi yang tumbuh menyelubungi dinding lalu tenggelam bersama interior kuil yang ajaibnya tak terusik – segala ornamen interior dan perabotnya betul-betul serupa dengan bagaimana rupanya saat mereka (di)tenggelam(kan), beribu abad nun jauh di sebuah titik dalam garis waktu yang telah lekang. bertengger di atas ribuan undakan, tinggi mencium awan – bagai biara-biara para pendeta Clarius Agung yang terpencil di atas menara gamping setinggi puluhan kilometer dan menguasai talisman elemen-elemen utama air, api, angin, tanah, dan kayu. Gerbang utama kuil terbuka dan Lindsey lalu melangkah masuk menuju balairung utama kuil. Terdapat altar pemujaan Naga Waktu Lucemia, beberapa bangku duduk, dan beberapa jendela bulat sederhana. Sebuah jam dentang tanpa angka berdiri di ujung balairung, jarum pendek dan panjangnya bergerak perlahan dan tak beraturan.

3. Kenduri Kegelapan

Di penghujung hari, malam turun dan menyelimuti cakrawala dalam balutan beludru hitam. Sisa-sisa siang hanyalah manik keperakan di tiap puncak ombak; walau terkadang si pemalu Luna memutuskan untuk menyapa gulita, menemaninya dengan karib yang temaram. Senyawa aromatik mengisi obor-obor dan memberi makan lidah api yang memamah jinak.

Malam itu, Lindsey berbaring di atas altar pemujaan. Matanya nyalang menatap langit-langit balairung yang tinggi menjulang. Tangannya rapi terlipat di atas perutnya. Di atas pembaringan batu itu, Lindsey bagai mayat hidup yang bangkit dari sarkofagusnya – karena wajahnya yang bermata tengkorak dan rambutnya yang terurai membentuk kipas di sekeliling kepalanya. Bahkan nyala obor pun ketakutan. Landak-landak berbulu oksigen-panas itu gemetar sebentar lalu bersembunyi entah ke mana, hanya asap tipisnya yang samar tersisa.

Jalinan takdir menggariskan bahwa gelung kapas akan menghimpit langit malam itu; tidak ada cahaya yang mampu mempenetrasi bagian bumi itu – seolah lokus tersebut sengaja diberi kesempatan untuk mendapatkan pengalaman visual berada di inti black hole. Atau mungkin hal ini menjadi bagian dari selera humor para dewa: Hades sedang ingin mengajak anjing dan ikan lampreynya berjalan-jalan di permukaan planet Metha yang indah, namun sayangnya kedua makhluk piaraan bertaring-banyak itu alergi cahaya. Bahkan suara pun segan menggetarkan amplitudonya – kesunyian menyublim menjadi sangat padat, berat menghimpit hingga kedalaman liang-liang labirin telinga.

Lindsey terbaring kaku di sana – di tengah balairung kuil, di atas altar; di tengah udara gelap, di pusat sunyi. Ia tak bergerak selama beberapa lama; berinteraksi dengan kegelapan dalam kediaman yang sangat. Gerak jarum jam sangat perlahan, tanpa terdengar sama sekali. Hidung Lindsey perlahan menarik dan membuang nafas, semakin lama semakin jarang namun semakin bersahaja. Gelap terasa berat dan kering di bibir, sama sekali terbuang dari kehangatan; bagai rengkuhan cinta sekelompok makhluk ektoplasmik. Dalam kegelapan, waktu tak tentu – kadang sangat perlahan, kadang berlari kencang – hingga setelah lima jam yang terkompresi, Lindsey mengeluarkan sebilah pisau makan dari bawah tangan kanannya dan sebuah garpu dari bawah tangan kanannya.

Ia mengayunkan tangannya ke atas lalu menekan pisaunya di udara kosong. Ia mulai menggerakkan pisaunya maju mundur, memotong kegelapan, kemudian menusuknya dengan garpu dan melahapnya. Mengunyahnya. Kegelapan terasa penuh dan liat bagai steak yang sangat tebal; kegetirannya memenuhi tiap sentimeter rongga mulut. Tiap-tiap suluhnya yang ringan seperti asap menari-nari meresap melewati geligi, memandikan lidah, bermain-main dengan anak tekak. Tiap suap agak sulit dikunyah, karena begitu digerus oleh dua pasang geraham sebelah kiri, si gumpal gelap yang tebal itu akan terdorong menuju sebelah kanan, dan begitu pula sebaliknya. Ini hanyalah seonggok daging yang liat, hanya sedikit menyulitkan saja. Lindsey terus memotong gelap, memakannya, mengunyahnya, menelannya. Malam masih panjang, artinya kenduri gelap ini bagai pesta hiper-sunyi dengan sajian yang tak habis-habis, setidaknya sampai dua abad lagi, saat kukuruyuk pecah di ufuk. Rasa kegelapan tebal bagai minuman keras yang luar biasa ringan, menyusup dalam butir-butir pasir hitam ke dalam kanal-kanal neuron; hitam esens ambrosia kering menyelubung lipatan otak.

Realitas berosmosis menuju bawah sadar; menit-menit konkret menyelam dalam lautan id. Semuanya di lautan malam gelap. Kala pagi datang, sudah cukup banyak gizi kegelapan yang berenang cepat dalam aliran darah.

4. Menenun Waktu

“Puja adalah memanggil datangnya tikungan-tikungan waktu;
Membangun lengkung-lengkung yang memotong kausal; infinitas beku,
Melukis bebayang harap-harap surga di atas hutan nyata yang baja.”

Saat penyihir Ultimecia melepas segel kompresi waktu, benua Eshtar seolah lebih gersang dari biasanya. Lima cuaca bersatu menjadi satu dalam gulungan awan hitam yang memuntir di langit, sementara gerbang-gerbang sihir bermunculan di tengah-tengah debris. Alur waktu tidak lagi menjadi linier, dan masa lalu seolah bertumpuk dengan masa sekarang. Banyak bangunan-bangunan, di desa Winhill, misalnya, yang fisiknya bertumpuk dalam dua fragmen waktu, runtuh karena tidak kuat menahan tarikan dimensional antara keduanya.

Lindsey melangkahkan kakinya menuju pintu kecil di samping altar yang menuju ke ruangan-ruangan di sayap kuil. Bagian luar kuil terbuat dari batu kapur yang putih, setiap sentimeternya melepaskan selapis hawa panas yang aneh. Namun bagian dalam aula dan bagian dalam lorong seolah terbuat dari material yang sama sekali berbeda: batu-batunya hitam, halus, ringan, dan dingin. Rasanya bukan granit atau basalt yang kasar dan berat, namun rasanya juga bukan kemegahan batu mulia yang licin. Lorong itu terasa menyimpan seluruh perasaan yang bisa dibangun oleh sejarah yang tua – kebijaksanaan yang berumur. Hingga akhirnya berujung ke beberapa ruangan di ujungnya. Kebanyakan dari ruangan itu kecil dan sederhana, tanpa ornamen apapun kecuali sebangun meja batu datar yang dilapisi selimut – mungkin untuk tempat tidur para penghuni biara. Namun ada satu ruangan yang lebih megah dari ruangan lain.

Langit-langit ruangan berbentuk lingkaran itu menjulang sangat tinggi, jauh lebih tinggi dari langit-langit aula utama. Sangat tinggi, sehingga seolah-olah relung atap itu dipenuhi oleh roh-roh tua yang bersemedi dan bergerak sangat perlahan. Dinding yang membangun ruangan itu, seperti dinding di ruangan lain kuil, sama sekali tidak halus melainkan penuh cekungan dan benjolan – bagai dinding gua yang dipahat. Mungkin seluruh kuil ini memang dulunya dipahat dari gua, entahlah, hanya sang Crystal of Infinity yang menyimpan arsipnya. Di seberang pintu, tinggi di bagian atas dinding, terpasang sebuah jendela kaca patri. Kusennya merupakan batu yang dipahat dalam motif jejaring laba-laba. Cahaya matahari masuk dengan anggun ke dalam ruangan melalui tiap fragmen dari jendela patri itu, terbiaskan dalam beragam warna: oranye, oker, turkoa, lavender, merah jambu – semuanya sangat subtil, bergerak dalam garis spektrum mendekati dan mendekati putih, seolah-olah bersatu. Lindsey memasuki ruangan. Dirinya terbasuh oleh keagungan sendu yang memenuhi ruangan itu – terutama karena ada mesin tenun di ruangan itu; sebuah mesin tenun kayu yang sangat tua. Dahulu, mungkin ruangan ini memiliki elemen fungsional – menghasilkan secarik tenunan songket atau sutra dengan beragam motif; mungkin juga dengan sedikit sentuhan elemen ethereal – produk-produk Solomon yang terbaik. Atau mesin tenun itu mungkin memiliki fungsi lain? Fungsi doa, fungsi puja, terutama karena diletakkan di dalam sebuah kuil; di dalam sebuah relung yang dipendarkan oleh karisma para penghuni langit dan penulis takdir.

Mana kembali berbisik: mesin ini menenun mimpi, menenun ingin. Menenun waktu dan sayap-sayap angan.

Lindsey duduk di kursi mesin tenun. Ia menyentuh perangkat kayu itu dengan jemarinya yang panjang dan kukunya yang berkutikel putih. Struktur kayu mesin itu terasa lembut dan tua, namun kokoh. Sendi-sendinya sama sekali tidak berderit jika ditekan – tanda kegagahan dan fungsi prima yang belum kalah oleh waktu. Lindsey menjejakkan kakinya pada pedal utama mesin, lalu mulai menggerakkan mesin. Strukturnya mengangguk-angguk, beberapa bilah kayu di ujung mulai naik dan turun, berbunyi klok-klok-klok. Jika dipasangkan lajur-lajur benang, mesin itu tanpa ragu siap untuk menjalinnya menjadi secarik kain madain yang berkualitas tinggi.

Mana kembali berbisik: Kain yang ditenun mesin ini adalah kain Madain Sari: suci dan menyimbolkan sesosok Eidolon agung. Tidakkah goni yang godlike merupakan prospek yang tak tertolakkan?

Lindsey mengangkat lengan kirinya. Secara perlahan, ia menancapkan kuku tangan kanannya ke selembar daging tipis yang melapisi tulang hasta dan pengumpil kirinya. Empat kuku itu menancap dalam, dan kulit pun mulai dikupas. Epidermis dibuang, dikerat hilang. Daging yang mengganggu disingkirkan. Kuku dan jemari kini bersimbah darah, mencari sesuatu di dalam daging lengan itu dengan tekun.

Satu demi satu, Lindsey mencabut benang-benang kusut pembuluh darahnya dari dalam lengan kirinya. Seluruh gulungan itu terdiri atas benang yang tipis seperti satin, benang-benang yang agak tebal seperti benang kasur, dan pembuluh-pembuluh yang tebal seperti kabel – semuanya dalam balutan warna karmin, ungu tua, dan biru limpa yang kecokelatan. Darah mengalir dengan sangat tenang, bagai aliran sungai yang sabar. Setelah tiap pembuluh diurai dari kusutannya, pembuluh-pembuluh itu disambungkan ke dalam mesin tenun. Mesin mulai dijalankan perlahan, tiap pembuluh mulai tergulung tipis ke dalam rol-rol kayu mesin tenun. Klok-klok-klok, terus begitu, tiap pembuluh ditarik dari dalam lengan dan masuk ke dalam mesin. Sang nadi sudah semenjak tadi digulung, menjadi ornamen utama dalam kain tenun yang sudah jadi sebagian.

Proses mencabut pembuluh darah ini kemudian diulangi dengan tangan yang kanan. Daging kembali dicoak menggunakan kuku-kuku tajam, diiris dengan sangat hati-hati agar tidak melukai benang yang berharga itu, kemudian benangnya disumpal ke dalam mesin tenun dan tenunan dilanjutkan. Energi Mana yang menyelubungi mesin menjaga agar tiap helai pembuluh tetap terjaga dan tidak koyak oleh tarikan dan himpitan. Setelah beberapa jam, pembuluh darah mengalir dari kedua tangan Lindsey dan masuk ke mesin tenun, terhampar bagai akordion yang tipis. Aorta dirajut menjadi sehelai kain, darahnya mengalir gemerlapan, indah bagai rubi yang cair. Mesin terus dikayuh dan kain terus ditenun – sekarang organ-organ dalam Lindsey mulai merasakan tiap pembuluh ditarik ke luar, betul-betul bagai terdapat benang yang ditarik keluar dari dalam badan. Vena cava mulai tak nyaman di tempat asalnya, memilih untuk berjalan-jalan menemani temannya masuk ke mesin asing itu; sementara arteri-arteri pulmonalis meninggalkan cumbunya dengan tiap butir alveolus. Para organ kini tidak dimamahi lagi, dan para benang beringsut bersama darah dalam tubuh mereka ke dalam mesin, menenun kain. Anehnya, sakitnya tidak seberapa. Daging-daging yang diinvasi, darah yang cantik membuncah dan pembuluh-pembuluh yang didislokasikan, alih-alih dihujam perih yang tak terperi, malah terasa seperti delusi yang mengayun perlahan – ekstase yang membuai sukma dengan kesyahduan bak mimpi. Mungkin inilah nyata – zat besi dalam darah yang sangat membebani perlahan dibebaskan dari koridor-koridor penjara badaninya, tiap keping hemoglobin kini berlarian bebas di lantai batu. Lebih banyak pembuluh memasuki mesin, satu meter kemudian satu meter lagi – kain tertenun, lebih banyak sinar mentari tertumpah melalui kaca patri, roh-roh agung yang menggantung bagai kandelir di atap ruangan bergerak dengan lebih bersuara, dengan puntiran yang lebih bertenaga – entah karena merasa terusik atau merasa bersemangat.

5. Sepia

Ruang itu adalah ruang para penenun mimpi. Konon dahulu, di ruangan itu, nyawa seorang biarawati muda dihempas oleh kutukan naga dimensi waktu, disebabkan oleh cinta tak berbatas sang biarawati dengan seorang titisan Lucifer – seorang setengah-iblis. Kutukan itu menyebabkan tersedotnya kemampuan biarawati itu untuk mengarungi waktu. Alih-alih berjalan dengan normal seperti manusia lainnya, ia diharuskan memakai sepatu citah dan berderap dengan penuh tenaga maju mendahului menit-menit lainnya. Ia mencapai usia sembilan puluh tiga tahun jauh lebih cepat dibanding teman-temannya – tak lama kemudian ia sudah hampir tidak memiliki kekuatan apapun kecuali sekuntum mahkota daun salam lambing kebijaksanaan yang menghiasi rambut panjang berubannya yang ditutupi kerudung putih. Ia menghabiskan waktunya di ruangan itu.

Ruangan itu adalah ruang yang menenun waktu (mimpi/waktu//mimpiwaktu…), dimana detik menjadi tiada dan nyawa menjadi nisbi.

Dimensi Lindsey seolah membeku. Seluruh melankoli meluruh menuju ketiadaan; atau lebih tepatnya mengeras di dalam sebuah semesta yang tidak lagi memungkinkan waktu untuk berjalan fluktuatif. Cangkang itu mempreservasikan sekuntum nafas dan secarik konsep filosofis mengenai ‘pernah hidup’ – kini tiada lagi deskripsi yang demikian karena Lindsey tidak hidup dan tidak juga mati, berada di satu tempat yang ditulis dalam kitab cerita Islam sebagai tempat yang maha tinggi. Tempat itu mencangkokkan dirinya dalam satu niche di masa lalu – dalam sekelumit rekoleksi memori paling ekskuisit. Saat hati dibelah, kristal rekoleksi ini pasti dapat ditemukan, bagai batu mulia yang terbentuk karena tekanan/suhu tinggi lingkungan sekitarnya. Saat kristal ini ditindih cahaya, bagai projektor, sang kristal merefraksikan imaji-imaji masa lalu dalam balutan sepia yang kuning kecokelatan. Menuju inilah Lindsey membeku – hanya ada seberkas usang yang statis.

Semesta berlanjut, berangsur lupa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s