Miyabi!

Datangnya Miyabi (nama panggilan beken dari Maria Ozawa, pemain film dewasa asal Jepang) ke Indonesia memanggil gempar. Miyabi adalah spesies baru antraks — virusnya akan menyebar dan mengakibatkan whiteout besar-besaran. Miyabi adalah titisan setan penggoda yang akan mengubah Indonesia menjadi Sodom dan Gomorrah, karena jika Miyabi datang, hari kiamat akan lebih cepat datang! Para ustadz langsung kalang kabut, rebutan ingin bertemu Miyabi untuk ‘menceramahinya agar tobat’.

Saya tidak pernah sadar bahwa dajjal ternyata jago juga berakting panas di ranjang!

***

Rencananya, Miyabi akan datang ke Indonesia untuk bermain dalam sebuah film komedi berjudul “Menculik Miyabi” yang ditulis oleh Raditya Dika. Tentu saja, dipastikan peran Miyabi dalam film tersebut bukan peran yang sifatnya seksual – peran biasa saja. Katanya, perannya sebagai penjaja warung yang berlanjut menjadi seorang wiraswastawati.

Sebuah ketakutan besar melingkupi kedatangan Miyabi. Sebuah blog membahas bahwa nama Miyabi sendiri, di mata masyarakat, sudah terlalu identik dengan aksi porno. Sealim-alimnya peran dan pakaian Miyabi di film tersebut, banyak lelaki yang tetap akan membayangkan kebinalan Miyabi. Bayangan ini akan berujung pada penghancuran generasi muda.

Tidakkah argumen ‘melindungi akhlak’ ini membosankan? Kesannya terlalu grandios, apalagi genderang perang yang sama selalu diulang-ulang. Namun frasa ini jarang (mau) dikupas secara lebih komprehensif. Lagi-lagi, masyarakat memakai skapular heroisme yang kebesaran lagi abstrak.

Coba tilik. Sangat aneh bahwa masyarakat konservatif Indonesia dapat menerima publikasi artis-artis seperti Tiara Lestari, Julia Perez, dan Kiki Fatmala yang imejnya sebagai selebriti dibangun jelas oleh peran mereka sebagai bom seks. Banyak penyanyi dangdut yang juga berlaku demikian. Harus digarisbawahi adalah peran Miyabi yang tidak porno dalam film tersebut, sehingga polemik yang sekarang dihadapi jelas-jelas bukan tentang pornografi, melainkan tentang imej atau pencitraan seorang selebritis – dalam hal ini, citra seksi.

Harus disadari bahwa pertanyaan mengenai baik dan buruknya efek atas keberadaan selebriti berimej seksi sangatlah sulit dijawab. Sungguh suatu simplifikasi yang luar biasa jika imej seksi beberapa selebriti menjadi penyebab utama untuk kasus-kasus seperti tindak perkosaan, pelecehan seksual, perselingkuhan, atau hubungan seks remaja pranikah tanpa pelindung. Kasus-kasus ini juga bisa dipengaruhi oleh tidak adanya kultur membicarakan masalah seks dengan terbuka, baik bersama pasangan, apalagi dengan orang tua. Hal ini menyebabkan para suami yang memiliki masalah dengan istri pergi mencari perempuan lain ketimbang membicarakan penyelesaian masalah seks itu bersama si istri. Remaja yang mulai menyadari fungsi seksualnya lebih nyaman membicarakan masalah itu dengan teman sekelas, berujung dengan para siswa berkumpul di rumah teman yang sedang kosong untuk sesi nonton bokep bareng – situasi yang sangat mungkin (jika ada siswi yang kebetulan terlibat atau memang sengaja melibatkan diri) berujung pada hubungan seks pranikah, tentu saja tanpa kehadiran kondom, karena sebagai remaja rasanya selalu terlalu sungkan untuk membeli kondom di mini market. Apalagi, faktor seduksi eksternal seringkali bukan merupakan sebab utama terjadinya perkosaan – sebabnya lebih berada pada lemahnya kontrol diri si pemerkosa. Begitulah yang sering dikatakan oleh ‘ahli seks’ dr. Boyke Dian Nugraha.

Kebiasaan mengasumsikan efek praktis dan menjawab tiap pertanyaan menggunakan satu jawaban simpel memang merasuk ke pori-pori sebagian besar masyakarat Indonesia. Sudah saatnya disadari bahwa masalah ‘membangun akhlak’ bukanlah berporos pada aplikasi sistem blokade, melainkan membutuhkan pendekatan dari sisi yang sama sekali lain.

Jika tujuannya ingin melindungi akhlak masyarakat, saya bingung mengapa MUI tidak pernah menggemakan pesan yang sangat frontal mengenai hal-hal lain, misalnyai sinetron Indonesia yang penuh dengan kekerasan dan kevulgaran – cemooh-cemooh kasar, aksi fisik seperti menggampar atau menendang, dan budaya konsumerisme yang terlalu menohok. Lebih aneh lagi adalah diamnya MUI dan masyarakat ketika muncul film lokal seperti “Saya bingung mengapa masyarakat konservatif tidak begitu peduli mengenai isu-isu yang jelas-jelas penting seperti lingkungan dan kebersihan: saya sering sekali melihat ibu-ibu berkerudung membawa anaknya tamasya ke Taman Lalu Lintas, namun di angkot selalu membuang sampah tak pada tempatnya. Yang paling miris, beberapa hari yang lalu, di sebuah angkot pagi, saya bertemu tiga orang ibu yang baru selesai pengajian, membicarakan datangnya Miyabi dengan penuh semangat. Sangat menentang, tentunya, tak sudi Miyabi datang karena ia “tak berakhlak”. Para ibu itu berbicara sambil mengemil rujak buah. Tak berapa lama, rujak itu habis dan plastik beningnya bersama kresek hitam yang membungkusnya dibuang dengan santai dari jendela angkot, mendarat di aspal jalan. Pembicaraan dilanjutkan.

Saya berpikir: kebiasaan mengotori seperti itu bukannya juga “tak berakhlak”?

Jika tujuannya ingin membangun akhlak yang lebih baik, saya bingung mengapa masyarakat konservatif begitu permisif dengan budaya jam karet, misalnya. Banyak sekali kelompok konservatif yang menganggap membuka aurat sangatlah buruk (walaupun hanya memperlihatkan rambut dan tangan saja, yang sangat biasa di dunia ini) namun keterlambatan 30 menit dapat ditolerir. Saya bingung mengapa kedatangan Miyabi begitu digembar-gemborkan, dibahas secara sangat menyeluruh bak festival angkasa oleh sebagian besar masyarakat – sebarisan ulama dalam panji MUI berjajar di garis depan, sementara hal-hal yang tadi saya sebutkan di atas tidak pernah dikritisi secara vehemen.

Yang harus diingat adalah, mendefinisikan akhlak bagi bangsa yang multikultural seperti Indonesia tidak dapat menggunakan kacamata agama tertentu, dalam hal ini Islam semata. Paradigma yang diambil sebagai dasar pembuatan kebijakan haruslah cukup general sehingga inklusif terhadap setiap kelompok yang ada di masyarakat. Secara general, akhlak mencakup dua hal: apresiasi dan etos kerja. Tujuan ‘membangun akhlak’ sebaiknya disetir di atas rel seperti ini: membangun respek yang kuat terhadap wanita dari lelaki agar, bahkan saat ereksi, tidak selalu memandang wanita sebagai objek belaka (kebiasaan berpikir di bawah-sadar bahwa ‘cewek ini lebih lemah dari gue’ seringkali merupakan gerbang terakhir seorang [calon] pemerkosa menuju submisi penuh kekerasannya terhadap berahi); membangun kultur otoritas yang approachable dan tidak gila hormat dalam rangka mengapresiasi kemampuan bicara dan berpikir manusia sedari muda; membangun apresiasi terhadap lingkungan hidup, dan menggarap disiplin kerja yang tidak saja dalam bentuk yang terlihat penuh pose – mencepret siswa jika telat namun guru atau dosen boleh bolos dan masuk-keluar kelas seenak perut.

Apa yang saya katakan di atas memang secara praktis tidak eksklusif satu sama lain dengan pelarangan datangnya Miyabi. Mungkin Miyabi harus masuk Indonesia atas nama kebebasan berekspresi dan seni. Hak dia dan rumah produksi sebagai industrialis yang mencari nafkah pun perlu dipertimbangkan. Beberapa pihak berargumen bahwa film di mana Miyabi akan berakting mengupas sisi kehidupan sang pesohor sebagai manusia biasa yang bekerja keras. Alasan-alasan seperti ini tentu merupakan faktor yang tidak dapat begitu saja di-dismiss dalam isu ini. Yang saya sayangkan adalah definisi banyak orang yang terlalu picik mengenai ‘membangun akhlak’. Sebuah badai kakofonis yang terlalu bingar berpusar di sekitar Miyabi (dan hawa-hawa seksinya) sehingga hal-hal lain seperti pembenahan sistem pendidikan, yang sebelumnya memang selalu terbengkalai (baca: dijalani setengah hati dan supportnya jarang dikumandangkan dengan sedemikian vokal), semakin terlupakan dan terpinggirkan.

***

Pada akhirnya, Miyabi ya Miyabi. Memperdebatkan seberapa signifikan seduksi eksternal yang ia sebabkan kala datang ke Indonesia tidak akan pernah berakhir pada sebuah angka yang memuaskan. Toh Menteri Kebudayaan dan Pariwisata sendiri sudah menyatakan bahwa Miyabi bebas datang ke Indonesia dan berkarya di sini sepanjang ia tidak melakukan perbuatan kriminalitas atau produksi pornografi. Dampak dari budidaya pelajaran seks lewat film atau media lainnya selalu ada, Miyabi atau tidak Miyabi. It is truly a complex matter.

Mungkin karena MUI dan para figur otoritas lainnya terlalu kaku, dibalut tabu jika bicara seks, orang-orang jadi beralih pada Miyabi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s