Utilitarianisme Agama, Heteroseksualitas, dan Homoseksualitas

scotus-same-sex-marriage
Waving a rainbow flag in front of US’ Supreme Court because #lovewins

“Your task is not to seek for love, but merely to seek and find all the barriers within yourself that you have built against it.”

— Rumi

Belakangan ini, di linimasa berbagai media jejaring sosial banyak muncul argumen-argumen yang menentang, mengkritik, bahkan mengutuk legalisasi pernikahan sesama jenis oleh Mahkamah Agung AS. Alasannya biasa: balik lagi ke pelanggaran aturan agama. Atau karena dianggap tidak “alami” dan menyalahi “kodrat” manusia untuk beranak pinak.

Kenapa sih agama melarang pernikahan sesama jenis? Ada alasannya lho. Di zaman tahun 0 dan 600 Masehi, masturbasi dan homoseksualitas tidak ada faedahnya, malah merugikan. Soalnya, masyarakat butuh sebanyak mungkin anak-anak yang tumbuh nantinya menjadi petani, pekerja, tentara, dan orang-orang yang melindungi komunitas masing-masing. Anak adalah komoditas langka: belum ada antibiotik sehingga kematian bayi atau balita sangat sering, atau terkena penyakit sehingga tumbuh tidak optimal. Apalagi, struktur masyarakatnya adalah masyarakat fisik: kekuatan kelompok bukan ditentukan oleh hukum internasional, melainkan jumlah bala tentara dan senjata yang berhasil diproduksi, ditopang oleh sistem agraria yang notabene membutuhkan sebanyak mungkin tenaga kerja manusia karena masih terbatasnya teknologi pertanian.

Inilah mengapa homoseksualitas dianggap mudharat oleh para nabi dan rasul yang hidup di konteks yang sedemikian. Seks adalah utilitas masyarakat; pabrik produksi untuk secara efektif dan efisien memanufaktur buruh. Landasan pikirnya sepenuhnya utilitarian.

Hanya saja, sumber kebenaran masyarakat saat itu adalah hal-hal magis, klenik, divinitas, supranatural. Hujan dijabarkan sebagai tangisan dewi. Gerhana adalah pertanda buruk. Piramida dibangun dengan semangat agar sesuai dengan perhitungan astronomi para ahli nujum sehingga menyempurnakan penyembahan dan reinkarnasi, karena bintang dianggap portal menuju dimensi adiluhung. Karena sumber kebenaran masyarakatnya demikian, digunakanlah nuansa ketuhanan sebagai justifikasi aturan tersebut.

Saat ini populasi planet Bumi sudah lebih dari 7 miliar. Antibiotik semakin canggih. Ekspektansi umur terus meningkat. Perkembangbiakan manusia yang luar biasa memakan sumber daya alam hingga planet megap-megap: udara bersih, sanitasi, bahkan pangan menjadi komoditas langka; kepadatan penduduk luar biasa tinggi; kemiskinan di mana-mana. Teknologi semakin canggih sehingga industri padat modal jauh lebih berkembang dibandingkan industri padat karya. Jelas, beranak pinak bukan lagi menjadi ibadah, beranak pinak adalah mudharat.

Beranak pinak adalah manifestasi dari gen egois yang selalu mendorong kita untuk mereplikasi susunan kromosom tersebut. Bukankah agama selalu mendorong kita untuk menghindari hal yang ‘alami’, jika hal yang alami tersebut membawa mudharat: misalnya, makan itu alami tapi semua agama mengajarkan puasa; malas itu alami tapi semua agama meminta kita melakukan ritual yang ketat untuk membangun disiplin; nafsu membunuh itu alami (ingat cerita Qabil/Cain?) tapi agama mengajarkan kita untuk sabar, memaafkan, dan berwelas asih. Dan sebagainya.

Oleh karena itu, posisi mudharat/manfaat saat ini menjadi terbalik. Beranak pinak (heteroseksual) adalah bahaya; homoseksual yang tidak punya anak atau malah akan adopsi, justru adalah manfaat yang bisa membantu manusia mengurangi kepunahan.

Dapatkah prinsip agama bergeser?

Ngapain sih Muhammad repot-repot menghancurkan berhala sampai sering hampir dibunuh? Ngapain sih beliau ngotot menyebarkan prinsip-prinsipnya walaupun keras ditentang? Bukan hanya karena berhala, tapi karena masyarakat jahiliyah itu usil, kasar, cinta kekerasan, brutal, gak mau mendengarkan orang lain, tidak menghargai perempuan, tidak mengindahkan tamu yang kulturnya beda…. yah, mirip FPI atau ISIS lah. Menentang kaum jahiliyah dilakukan agar dunia bisa jadi lebih adil; agar pihak yang dipinggirkan (perempuan, orang tua, kaum minoritas) bisa diperlakukan lebih setara, dan masyarakat secara umum bisa lebih sejahtera.

Untuk itu, karena tujuannya kesejahteraan (welfare) dan keadilan (masyarakat madani), prinsip agama tentu bisa bergeser kalau kedua hal tersebut tidak terpenuhi. Saya akan ambil contoh-contoh dalam Islam karena sejarahnya saya pelajari. Dalam Islam, prinsip Islam di Mekkah (garang, serba-tauhid, hitam-atau-putih, sangat tegas) bergeser saat setelah hijrah ke Madinah (ayat-ayat menjadi lebih panjang, administratif, berlapis-lapis, memiliki banyak pengecualian, akomodatif). Jelas, karena kebutuhan untuk garang tidak ada lagi saat Islam sudah bisa ajeg. Kebutuhan yang lebih penting adalah menciptakan masyarakat madani yang akomodatif terhadap perbedaan (karena toh Muhammad SAW juga hidup berdampingan dengan orang Kristen ataupun Yahudi dengan adem ayem dan damai).

Bagaimana dengan QS Al Maidah ayat 3, “telah kusempurnakan untukmu agamamu…”? Tentu saja, soalnya jika tidak dikatakan demikian, besar kemungkinan ajaran-ajaran yang sudah dibangun menjadi diselewengkan dan dipelintir. Wong sudah diwanti-wanti begitu pun Islam masih terbelah menjadi Sunni Syiah lah, Salafi Wahabi Hambali Hanafi Syafii lah, dsb. Namun, mengingat prinsip sebelumnya bahwa nuansa inti Islam sudah pernah bergeser secara signifikan dari Mekah ke Madinah, merespon terhadap kebutuhan politis, sosial, dan konteks, ayat tersebut harus dipahami sebagai mengacu kepada prinsip utama Islam, yakni membangun social welfare dan justice.

Saya yakin jika Muhammad SAW hidup pada zaman ini, beliau justru akan sedih melihat banyaknya umat beragama yang diskriminatif, kejam, dan berangasan, sifat-sifat yang beliau ingin perangi di konteks Jahilia karena bertolak belakang dengan sifat beliau yang dikisahkan secara konsisten sebagai pribadi yang pengertian. Yang juga terlupakan adalah tujuan pragmatis agama yakni membangun social welfare (mengurangi populasi yang terlalu membludak) dan social justice (anti diskriminasi bagi pihak-pihak yang tak melakukan kekerasan).

Mohon maaf jika tulisan ini terlalu “bebas” atau tidak berkenan. Ini hanyalah sebuah renungan di sebuah malam bulan Ramadan dari seorang insan yang takut dimarahi Tuhan jika kurang pol mensyukuri dan memanfaatkan karunia akal dari-Nya bagi manusia. Karena akar kata ‘jahiliyah’ adalah ‘jahil’ atau bodoh, dedengkotnya si Abu Jahal, kiranya mengerikan jika ijtihad kita kalah oleh rasa takut (padahal Tuhan kan maha adil lagi maha mengetahui niat dan hati), emoh mempertanyakan ‘mengapa’, atau malah bersikap keras kepala. Karena kealamian heteroseksualitas justru merupakan ancaman bagi eksistensi manusia dan social welfare, dan karena diskriminasi adalah ancaman terbesar terhadap social justice, mungkin pelangi-pelangi ini adalah zeitgeist yang malah justru akan didukung oleh keberagamaan yang arif. welfare, dan karena diskriminasi adalah ancaman terbesar terhadap social justice, mungkin pelangi-pelangi ini adalah zeitgeist yang malah justru akan didukung oleh keberagamaan yang arif.

4 thoughts on “Utilitarianisme Agama, Heteroseksualitas, dan Homoseksualitas

  1. Please do not use debate paradigm to understand Islam. Instead, we should strive to implement Islamic paradigm (Qur’an and Hadith) as a guide to lead our way of life (whether or not we like it, whether or not we think it’s utilitarian). The Qur’an and Hadith have been clear in explaining what actions are obligatory (Fard), permissible (halal), and forbidden (haram) to be done. Everything else besides that is either mustahabb (recommended), mubah (optional) or makruh (discouraged).

    1. Increase of world population is not a problem, because there’s no Qur’anic verse or hadith which forbid or discourage giving birth to children. Allah is Ar-Razzaq, He Provides every single creature’s need and decides the birth and death of every single person by his Qadr. “[He] who created death and life to test you [as to] which of you is best in deed” Al Mulk (67:2). Poverty and resource scarcity is a test for human beings, whether we’re patient and willing to give charity. But even if we refuse to give charity, Allah is enough to provide the needs all of his creations.

    2. People are changing in defining welfare and justice, but the rules of Qur’an and hadith will never change. Islam never told their followers to make sects (Sunni, Syiah, Wahabbi, Hanafi, etc.). “And hold to the rope of Allah all together and do not become devided” Ali Imran (3:103). If a scholar tells us something, we shouldn’t accept it if it’s against the Qur’an and hadith. “Indeed, those who have devided their religion and become sects – you [O Muhammad], are not [associated] with them in anything” Al-An’am (6:159).

    3. Homosexuality is forbidden in Islam (both the sexual orientation and behavior). “Do you approach males among the worlds And leave what your Lord has created for you as mates? But you are a people of transgressing” Ash-Shua’ra (26:165-166). The people of Luth (pbuh) refused to be married to women and prefer to approach men sexually. Transexuality is also forbidden in Islam. More details here: http://wikiislam.net/wiki/Qur'an,_Hadith_and_Scholars:Homosexuality

    4. In Islam, marriage is legal only between men and women (husband and wife). There’s no verse in the Qur’an and Hadith which legalizes homosexual marriages. “O mankind, indeed We have created you from male and female and made you peoples and tribes that you may know one another. Indeed, the most noble of you in the sight of Allah is the most righteous of you. Indeed, Allah is Knowing and Acquainted” Al-Hujurat (49:13). “And of His signs is that He created for you from yourselves mates that you may find tranquillity in them; and He placed between you affection and mercy. Indeed in that are signs for a people who give thought” Ar-Rum (30:21).

  2. maaf, kesimpulannya banyak yang terburu-buru
    Pertama :
    “Di zaman tahun 0 dan 600 Masehi, masturbasi dan homoseksualitas tidak ada faedahnya, malah merugikan.” Sejak jaman sebelum masehi AKA jamannya nabi Luth AS, agama sudah melarang homoseksualitas.
    Kedua :
    “Inilah mengapa homoseksualitas dianggap mudharat oleh para nabi dan rasul yang hidup di konteks yang sedemikian.” Kata para nabi dan rasul adalah hal yang rancu karena hanya sebagian kecil nabi yang kita ketahui hidup pada jaman tersebut, maka bagaimana dengan nabi sebelumnya? Musa AS dan Daud AS? apakah mereka tidak menganggap mudharat?
    Ketiga :
    “Saat ini populasi planet Bumi sudah lebih dari 7 miliar. Antibiotik semakin canggih. Ekspektansi umur terus meningkat.” Antibiotik semakin canggih namun penyakit pun bermutasi. Ekspektansi umur meningkat dibanding dengan jaman kapan? Ekspektansi umur manusia jelas berkurang jika dibandingkan jaman dahulu saat manusia mampu memiliki umur ratusan tahun.
    Keempat :
    “Bukankah agama selalu mendorong kita untuk menghindari hal yang ‘alami’, jika hal yang alami tersebut membawa mudharat: misalnya, makan itu alami tapi semua agama mengajarkan puasa; malas itu alami tapi semua agama meminta kita melakukan ritual yang ketat untuk membangun disiplin; nafsu membunuh itu alami (ingat cerita Qabil/Cain?) tapi agama mengajarkan kita untuk sabar, memaafkan, dan berwelas asih.” Maksud apa yang ingin anda berikan? Memiliki keturunan alami tapi kita harus menahannya dengan homoseks? Terlalu jauh ketika mengambil kesimpulan bahwa hal alami dalam agama ditahan dengan kegiatan yang menegasi itu tanpa ada batasan. Masih ada nikah, kontrasepsi, puasa untuk menahan keinginan yang masih dibatas kenormalan.
    Kelima :
    “Ngapain sih Muhammad repot-repot menghancurkan berhala sampai sering hampir dibunuh? Ngapain sih beliau ngotot menyebarkan prinsip-prinsipnya walaupun keras ditentang? Bukan hanya karena berhala, tapi karena masyarakat jahiliyah itu usil, kasar, cinta kekerasan, brutal, gak mau mendengarkan orang lain, tidak menghargai perempuan, tidak mengindahkan tamu yang kulturnya beda…. yah, mirip FPI atau ISIS lah. Menentang kaum jahiliyah dilakukan agar dunia bisa jadi lebih adil; agar pihak yang dipinggirkan (perempuan, orang tua, kaum minoritas) bisa diperlakukan lebih setara, dan masyarakat secara umum bisa lebih sejahtera.” Sangat setuju dengan paragraf ini, namun saya tidak sependapat dengan opini yang ingin anda giring. Nabi adalah pembela kaum minoritas tapi tidak kaum LGBT. Karena sudah sangat jelas di kitab Al Qur’an dan tidak ada tafsir dan ijtihad manapun dari “ulama soleh” yang membenarkan LGBT.
    Saya menyempatkan diri untuk membaca beberapa tulisan yang anda buat, saya salut terhadap pemikiran anda dan kemauan untuk mempertanyakan berbagai hal di agama anda sendiri. Sayangnya anda terlalu pemilih dalam belajar, Anda terlalu banyak memakai pemikiran sendiri dan pemikiran luar islam, sangat sedikit anda menggunakan pemikiran ulama dari kalangan islam, seriously mereka tidak “bodoh”, pemikiran mereka tidak kalah dengan pemikiran luar dan mereka malah lebih jauh belajar itu dengan dasar dalil naqli dan aqli yang sangat masuk akal. Coba sekali-kali anda baca tulisan tentang ilmu tasawuf dari Abu Nawas atau ilmu kalam dari Ibnu Sinna, atau pemikiran 4 imam yang sudah banyak dibukukan. Mau yang lebih mudah lagi? baca dan pelajari Al Qur’an dan Hadits. Tulisan saya memang tidak rapi seperti tulisan anda hehe yang banyak hiasan kata-kata ilmiah dan istilah, tulisan anda jauh berkelas. Tapi ini masalah pengalaman dan gaya😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s