Hilangnya Relevansi Kebertuhanan Fundamentalis

padma
Artwork: “Religious Meltdown” (Uphie, 2008)

Bulan Ramadan tahun ini banyak lika-likunya, seperti naik rollercoaster. Media jejaring sosial sibuk mengumandangkan orkestra mengenai sahih-tidaknya memberikan support bagi teman-teman LGBT. Hilir mudik ayat Qur’an dan referensi ilahiah lainnya dicatut sebagai dasar pembenaran (justifikasi). Selain itu, umum juga kita dengar di masyarakat, selagi menikmati kolak saat buka puasa atau mendengar khutbah tarawih saat berjalan pulang dari kesibukan, titah-titah agama diseliwerkan sana-sini, gado-gado bahasa lokal, bahasa Indonesia, bahasa Arab. Inilah kolase kebertuhanan yang sering kita temui di masyarakat.

Adalah resolusi saya Ramadan ini untuk memahami lebih jauh mengenai kebertuhanan. Saya harus paham lebih jauh. Dari situ, saya melakukan observasi terhadap bagaimana kebertuhanan bermanifestasi di lingkungan sekitar. Kebertuhanan mengambil banyak bentuk, dari yang paling santun hingga yang paling beringas. Ada satu hal yang menarik untuk ditelisik lebih jauh dari bagaimana kebertuhanan diperlakukan. Kebertuhanan seringkali diperlakukan melalui kacamata fundamentalisme.

Definisi

Apa sih yang disebut fundamentalisme? Fundamentalisme adalah pemahaman scripture (kata-kata dalam kitab suci) secara literal, saklek, verbatim. Apa yang tertulis di kitab suci diartikan secara harfiah dan sebagaimana adanya. Biasanya, para ahli tafsir, perawi hadits, dan sejarawan agama memahami sumber-sumber kebenaran dalam agama menggunakan analisis konteks untuk interpretasi, karena toh aturan agama tidak diturunkan dalam ruang vakum atau terisolir dari pengaruh maupun kebutuhan kesesuaian budaya di mana agama tersebut muncul dan tumbuh. Fundamentalisme menolak pendekatan ini dan percaya bahwa kebenaran pemahaman secara literal adalah yang paling benar karena paling pure, murni, dan cenderung berpendapat bahwa pemahaman manusia (sering disebut ijtihad) adalah sebuah bentuk kontaminasi.

Karakter inti dari fundamentalis adalah begitu sakleknya prinsip tersebut kepada pemahaman yang sangat literal dan terbatas terhadap teks kitab suci karena kitab tersebut diatribusikan divinitas yang begitu tinggi: dianggap sebagai kata-kata langsung dari Tuhan.

Muasal

Mengapa sih fundamentalisme bisa muncul? Dalam banyak agama, misalnya di Kristen, fundamentalisme baru muncul belakangan sebagai reaksi terhadap skisme mendalam dan perantingan ajaran Kristen menjadi begitu banyaknya denominasi, khususnya setelah melemahnya pengaruh patronase Vatikan. Fundamentalisme Kristen muncul sebagai reaksi penganut ajaran konservatif dan ortodoks terhadap perubahan-perubahan modernis yang terjadi dalam doktrin Kristen.

Dalam Islam sendiri, ada beberapa akar yang dapat ditelusuri terkait genesis fundamentalisme.

1. Divinitas (bukan empirisme) sebagai sumber kebenaran

Mengapa sih, agama dijelaskan secara ilahiah? Saat agama Abrahamik muncul, jenis masyarakat yang ada bukanlah jenis masyarakat yang logis. Sebelum melangkah lebih lanjut, penting untuk menyatakan bahwa pernyataan ini hanya bertujuan membuat hipotesis sosiologis terkait perbedaan taksonomi masyarakatnya, tanpa melakukan valuasi — tulisan ini tidak menyimpulkan bahwa masyarakat logis serta merta lebih bagus dibandingkan yang pra-logis.

Soren Kierkegaard mengupas dengan lugas, dalam “Fear and Trembling”, mengenai betapa tidak bermoralnya Abraham saat ia mau menyembelih anaknya sendiri karena konon ia disuruh Tuhan untuk melakukan hal tersebut. Kierkegaard berargumen: “etis itu berbeda dengan estetis; dalam estetika, saat tragedi akan terjadi, biasanya ada pahlawan kesiangan yang muncul tepat sebelum bencana melanda sehingga kesedihan bisa terasa dan nilai moral keseluruhan kejadian bisa dicerna oleh pelihat tanpa harus ada bencana yang betul-betul terjadi; akan tetapi, etis dunia nyata tidaklah demikian.” Posit ini menarik karena, secara tidak langsung, Kierkegaard berargumen tentang sebuah dilema kontradiktif: jika Abraham memang orang yang betul-betul bermoral dan saleh, maka ia tidak mungkin betul-betul akan menyembelih anaknya.

Terjadi kontradiksi antara kesalehan (moralitas) Abraham dan improbabilitas (ketidakmungkinan) ia untuk serta merta membunuh seorang anak yang tidak berdosa. Bagaimana meresolusikannya? Resolusi yang bisa menghilangkan kontradiksi tersebut ternyata adalah ekstrapolasi argumen Kierkegaard itu sendiri. Kontradiksi hanya akan terjadi jika penyembelihan terjadi sebagai sebuah titik historis yang riil, sehingga harus dinilai melalui paradigma etis dan bukan estetis. Kalau tidak terjadi? Ya estetika saja! Maka, bisa disimpulkan bahwa kontradiksi tidak terjadi jika kita pahami bahwa penyembelihan yang konon Abraham lakukan sifatnya bukan merupakan sebuah kejadian yang betul-betul terjadi, sehingga tidak dinilai melalui kacamata etis melainkan kacamata estetis — panggung sandiwara… Sebuah drama!

Secara pribadi, saya melihat Abraham sebagai orang saleh yang berani mengumandangkan nilai-nilai moral terhadap raja Namrud yang lalim. Ia adalah seorang visioner avant-garde yang bisa melihat kebutuhan zaman dan perkembangan sosial jauh di depan masyarakat yang ia hadapi. Mengapa ia sampai mau menyembelih anaknya? Karena Abraham butuh sebuah sandiwara dramatis yang berlatar divinitas untuk menyampaikan sebuah pesan. Apa yang ingin Abraham sampaikan adalah ide yang kemudian diteorikan oleh banyak filsuf dan ekonom sebagai redistribution of wealth (pentingnya berbagi dengan fakir miskin), yang kemudian berkembang menjadi sistem pajak, subsidi silang, sampai welfare state dan sebagainya. Akan tetapi, kalau Abraham bilang soal “redistribution of wealth” kepada masyarakat saat itu, akankah mereka percaya? Tentu tidak! Untuk apa berbagi hasil kerja keras berladang dan beternak di tanah gersang dengan orang lain secara cuma-cuma!? Pasti mental ditolak. Oleh karena itu, sebagai seorang ahli strategi sosial, Abraham kemudian berpikir, “cara apa yang bisa kulakukan untuk secara efektif menanamkan nilai tersebut tapi bisa diterima oleh masyarakat? Ah! Cantolkan saja dengan divinitas! Berikan elemen supranatural dalam ceritaku agar orang-orang mau tergerak!” Saya yakin bahwa ia mengajak sang anak (Ismail menurut Qur’an atau Isaak menurut Bibel) untuk berjalan-jalan naik gunung selama tiga hari, mungkin kemping, hiking, dan melihat pemandangan, kemudian saat turun, meminta si anak sholeh untuk turut ‘berkomplot’, kemudian bercerita kepada semua orang tentang “penyembelihan” dan betapa Tuhan telah mengintervensi penyembelihan tersebut agar daging qibas (sapi besar) yang ada dibagikan ke kaum dhuafa yang kurang beruntung. Alhasil, masyarakat melakukan redistribution of wealth saat penjelasannya dicantolkan ke elemen divinitas. Problem solved!

Mengapa divinitas penting? Kan, kalau ada penjelasan masuk akalnya, mengapa tidak dijelaskan saja? “Masuk akal” sebetulnya adalah sumber kebenaran yang relatif baru — muncul hanya setelah aufklarung dan rasionalisme yang muncul kurang lebih sekitar abad ke-16. Jika kita lihat konteks sosiologis masyarakat sebelum zaman tersebut, sumber kebenaran sifatnya ilahiah dan divinitas. Misalnya, cerita bahwa api muncul karena Prometheus mencuri “keutamaan dewa” dari gunung Olympus, dibagikan ke manusia, sehingga Zeus murka dan menghukumnya dengan cara dirantai di gunung agar organ dalamnya dicabik-cabik elang. Misalnya, piramida susah payah dibangun di tengah gurun dengan formasi yang sesuai dengan rasi bintang di atasnya dan arsitektur yang sudah di-approve oleh para ahli nujum, sebagai bentuk pemanjatan doa terhadap semesta dan memastikan roh Firaun langsung bisa mencapai bintang dan bersatu dengan Ra. Jika melihat sejarah, berbagai situs raksasa yang luar biasa sulit dibangun di masanya (lihat juga, misalnya, Seven Wonders of the Ancient World) didasari kebutuhan akan pemenuhan aspek-aspek divinitas, ilahiah, atau kejadian alam yang tidak biasa (supranatural).

Nah, karena sumber kebenaran masyarakatnya adalah ilahiah, agama, yang sebetulnya sama sifatnya dengan konstitusi, undang-undang, KUHP/KUHAP, tata krama dan norma, dan aturan-aturan lain yang disusun guna menjamin tercapainya kemaslahatan masyarakat madani (social welfare) dan sistem masyarakat yang teratur dan adil (social order and justice), harus dicantolkan menggunakan elemen-elemen divinitas yang supranatural. Inilah strategi yang digunakan para rasul untuk menasbihkan derajat kebenaran yang lebih tinggi terhadap ajarannya agar sesuai dengan divinitas, sesuatu yang dianggap penting oleh masyarakat dalam konteks-konteks tersebut.

2. Pergeseran dan Andai-andai

Seiring perkembangan zaman, sumber kebenaran yang dipegang oleh masyarakat mengalami pergeseran. Seiring terjadinya rasionalisme yang menekankan kepada butuhnya pembuktian empiris, kaidah berpikir sebab akibat (kepatuhan terhadap hukum kausal), dan cara berfikir ilmiah, terjadilah perkembangan ilmu pengetahuan yang kemudian menjelaskan banyak sekali hal terkait fenomena alam maupun sistem sosial. Jika dahulu, masyarakat menangis darah, bermandikan peluh, dan melakukan segala upaya yang bisa dilakukan untuk mencapai ketinggian ilahiah (menara Babil, gerbang Ishtar, Colossus of Rhodes, dan sebagainya), masyarakat sekarang melakukan segala macam upaya untuk memaksimalkan arus informasi: pengarsipan tulisan, pendidikan massal, sampai diciptakannya berbagai gadget dengan tujuan kemudahan berbagi informasi. Masyarakat global sudah bergeser dari penggunaan divinitas sebagai sumber kebenaran menjadi penggunaan informasi.

Andaikata ada rasul yang muncul zaman ini, akankah ia menggunakan penjelasan yang sifatnya fundamentalis, misalnya, “pokoknya, kalian ikuti saja prinsip ini, kalau nggak, Tuhan akan murka dan kalian semua akan masuk neraka!” Ataukah kira-kira ia akan menggunakan penjelasan logis? Rasanya, kita akan menuntut penjelasan kausal dan analitis mengenai prinsip baru yang katakanlah diusung rasul hipotetis tersebut. Mengapa? Karena inilah kaidah kebenaran masyarakat kita saat ini. Masyarakat akan menuntut rasul (orang visioner) untuk turut dengan kaidah kebenaran yang umum berlaku di masyarakat tersebut. Tak terkecuali bagi para rasul yang hidup di era pra-logis dan pro-divinitas.

Nyatanya, banyak sekali prinsip agama yang kemudian dianggap memiliki basis saintifik yang kuat. Misalnya, berpuasa dianggap baik untuk mengontrol porsi makan, sebagai bentuk detoksifikasi, bentuk empati kita terhadap orang yang tidak bisa makan 3x sehari, dan sebagainya. Sholat dianggap baik untuk memperlancar peredaran darah, agar kita tidak duduk melulu, dan agar kita istirahat dan meditasi barang lima menit di sela-sela kesibukan sehari-hari. Larangan makan babi menghindarkan banyak orang dari cacing pita (karena peternakan babi saat itu jelas belum higienis) dan larangan bersentuhan dengan anjing menghindarkan banyak orang dari rabies (belum ada vaksinnya saat itu!) — Chuck Palahniuk dalam “Rant” secara menarik menyatakan bahwa aturan-aturan agama melindungi banyak leluhur kita dari penyakit-penyakit melalui aturan berbasis divinitas yang sebetulnya bisa dijelaskan lebih lanjut berdasarkan prinsip atau kaidah yang muncul di kemudian hari. Oleh karena itu, saya yakin para rasul sebetulnya tidak ada yang fundamentalis dan mereka punya penjelasan logis tentang ide mereka. Hanya saja, para rasul berfokus ke pesan-pesan berdasar divinitas yang notabene fundamentalis dan berpeluru mukjizat agar sesuai dengan konteks masyarakatnya. Andaikata ada seorang rasul yang muncul di abad ini, yang akan beliau lakukan adalah memberi sebanyak mungkin informasi terkait analisis mengapa sebuah aturan baik ataupun tidak, alih-alih bertindak fundamentalis. Fundamentalisme sudah usang karena divinitas bukan lagi standar kebenaran utama masyarakat.

3. Pencegahan Politis

Muasal fundamentalisme yang terakhir adalah “suruhan” dari agama sendiri untuk bertindak fundamentalis. Misalnya, ayat terakhir Qur’an yang berbunyi “telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu..” dan bahwa tidak akan ada lagi rasul setelah Muhammad. Banyak orang menggunakan kalimat ini sebagai dasar argumen bahwa pemahaman tekstual yang verbatim terhadap Qur’an adalah yang paling benar, karena toh Qur’an menyatakan diri “sudah sempurna”.

Akan tetapi, kalau ayat tersebut dipahami sebagai pernyataan kesahihan dirinya sendiri, ini agak sulit dipahami karena sifatnya tautologis, sebuah kebingungan pikir yang menerima kebenaran karena hal tersebut berkata benar. Harusnya, tidak bisa sesuatu menyatakan dirinya sendiri sebagai benar. Toh, seiring perkembangan waktu, banyak sekali prinsip-prinsip agama yang kebenarannya terbukti secara eksternal (misalnya, kisah Abraham dan redistribution of wealth, faedah puasa secara medis, faedah sholat secara psikis, dan sebagainya). Masa iya Tuhan yang katanya sempurna melakukan kesalahan logika dasar seperti itu? Masa iya juga, kesalahan logika sangat dasar tersebut bisa bersandingan dengan aturan-aturan lain yang mendahului zamannya, visioner, dan avant garde? Sekali lagi, ini adalah kontradiksi.

Kontradiksi ini hanya bisa diresolusikan jika pernyataan-pernyataan tersebut juga dipahami dalam perspektif seseorang yang avant-garde. Seseorang seperti Muhammad yang bisa membangun konsep sosial dobrakan, jauh mendahului zamannya, dan pada saat yang sama sangat memahami konteks masyarakat yang ia hadapi, tentu saja paham bahwa dalam hidupnya yang terlalu singkat dan ajal yang ia ketahui sudah dekat, Islam belum ajeg dan pasti banyak perebutan kekuasaan politik yang akan terjadi setelahnya. Oleh karena itu, ayat tersebut muncul untuk mencegah aturan-aturan yang telah disampaikan — berikut faedah-faedahnya yakni progress menuju sistem hukum yang lebih baik, administrasi sosial yang lebih teratur, kesetaraan yang sifatnya rahmatan lil alamin (bagi semua manusia dan makhluk Tuhan lainnya) — agar tidak mudah dipelintir dan diobok-obok oleh kekuatan politik yang Muhammad tahu pasti akan merongrong sepeninggalan dirinya. Sehingga, pemahamannya bukan pemahaman tautologis di mana kitab suci serta merta benar karena menyatakan diri benar (karena itu kontradiktif dengan keutamaan/kesempurnaan Tuhan dan visi avant-garde Muhammad), tapi pemahaman berupa upaya perlindungan terhadap intervensi politik yang mungkin terjadi. Karena itulah, basis ini tidak dapat digunakan sebagai pembenaran fundamentalisme.

Manfaat vs. Mudharat

Setelah melihat bahwa prinsip-prinsip yang mendasari fundamentalisme sebetulnya bisa dipertanyakan karena kontradiksinya yang inheren dengan pergeseran zaman dan karena dasar pemikirannya sebetulnya bukan pengusungan literalisme melainkan perlindungan politik, apa saja sih manfaat dan mudharat fundamentalisme?

1. Kesederhanaan

Manfaat fundamentalisme jelas: sederhana. Pemahaman jadi simpel, tidak perlu banyak baca buku tafsir, tidak perlu kroscek, tidak usah repot-repot belajar sejarah atau mengerti konteks. Yang tersedia di Qur’an tarjamah, sudah cukup menjadi basis untuk bertindak. Simpel. Sederhana. Anak kecil pun bisa mengerti.

Akan tetapi, Irshad Manji menyebutkan sesuatu yang menurut saya sangat penting terkait kesederhanaan dan kegamblangan. Apakah memahami sesuatu secara sederhana merupakan simbol dari kepedulian? Agaknya tidak. Misalnya, saat kita peduli dan cinta terhadap seseorang, kita akan mencoba mengerti luar dalam bagaimana orang tersebut berpikir, cara dia bereaksi, apa yang dia suka dan tidak suka, seluk beluk kehidupan masa lalunya. Kepedulian bermanifestasi menjadi keingintahuan dan kerinduan akan pemahaman yang mendalam dan hakiki. Manji berargumen “the irony is, religious types pronounce reform-minded Muslims unfaithful, and yet we might be more consumed with faith — because of our haunting questions — than believers who have no questions at all.” Justru dalam kesederhanaan itu terjadi banyaknya bahaya, yang pertama adalah simbol ketidakpedulian tentang kompleksitas sebuah sistem ajaran Tuhan. Saat itulah kita menginginkan Tuhan menjadi lebih sederhana dari kita, artinya, kita menuhankan diri karena menganggap Tuhan itu sebegitu sederhananya sehingga semua sudah simpel, jelas, tidak perlu lagi digubris kalau-kalau ada yang harus diklarifikasi.

Mungkin kesederhanaan perlu saat kita masih anak-anak, atau saat kita mengajari anak yang kemampuan kognitifnya belum berkembang. Waktu kecil, kita diajari agar tidak berbuat nakal kalau tidak mau dicatat malaikat. Akan tetapi, saat dewasa, kita paham bahwa merugikan orang lain salah karena ada nilai-nilai moralitas universal, kita mampu berempati, mampu memahami hak azasi manusia, dan sebagainya. “Malaikat” adalah bahasa sederhana untuk “nilai-nilai moral” yang notabene lebih abstrak, sebagaimana “zakat” adalah bahasa sederhana untuk sistem redistribusi kekayaan berbasis empati sosial. Akan tetapi, sayang jika kita terus menerus memperlakukan diri sebagai anak-anak, dan agama terus menerus diperlakukan sebagai hanya simplifikasi belaka.

2. Lost in Translation

Sewaktu di ITB, saya pernah mengajukan pertanyaan di sebuah forum diskusi intranet kampus. Pertanyaannya sederhana, “apa sih fungsi sholat?” Dari pertanyaan tersebut, ternyata reaksi yang saya dapatkan sangat luar biasa dahsyatnya. Banyak orang mengurut dada, menyatakan saya kafir karena mempertanyakan Tuhan. Banyak yang berkata, “kalau belum mengerti, sudah lakukan saja gak usah banyak nanya!” — sebuah pernyataan yang aneh, karena justru kita bertanya saat kita belum mengerti, kalau udah paham sih ngapain nanya dong. Banyak orang menjawab sekedarnya, misalnya “ini latihan untuk patuh Tuhan” (ya kalau gitu kenapa bentuknya harus seperti itu, kenapa harus lima kali sehari?) atau “ya gerakannya kan sehat” (ya kalau gitu kenapa gak olahraga aja?), dan seterusnya.

Jawaban yang paling sering muncul adalah argumen yang saya sebut argumen “life jacket“: “sholat itu penting karena katakanlah Tuhan tidak ada, kita gak akan rugi2 amat, tapi kalau Tuhan ada, kita aman karena kita sudah patuh perintah-Nya! Jadi, win-win solution!” Argumen yang menarik, tapi ya kan Tuhan paham manusia luar dalam, masa iya dia gak tau bahwa kita beribadah cuma sekedar cari aman aja dan dengan gampang bisa masuk surga hanya karena main taktis dan mau amannya doang? Kok agama jadi cetek begini?

Yang saya tangkap waktu itu, sulit sekali untuk mendapatkan jawaban yang komprehensif tentang fungsi sholat dari para teis. Dari berbagai ulama dan kelompok agama di sekitar saya pun demikian, jawabannya hanya “sekedar” tanpa banyak pendalaman. Paling banter hanyalah sodoran kitab-kitab tak terjelaskan, seringkali dengan sedaras gaya somse karena sebagai orang yang tidak berbahasa Arab, saya dianggap anak bawang yang pertanyaannya tidak perlu digubris. Agamawan banyak yang malah merendahkan penanya, sehingga agama menjadi lost in translation.

Setelah tahap itu, saya jadi agak malas melaksanakan ritual karena toh saya tidak paham mengapa ritual tersebut penting (kecuali ancaman neraka, tentunya — ini akan saya bahas di bagian selanjutnya). Akan tetapi, belakangan ini, saya banyak berdiskusi dengan semakin banyak orang dari latar belakang agama yang beraneka ragam, baik yang teis maupun yang ateis. Justru dari berbagai diskusi yang “liberal” (tanpa konotasi negatif yang banyak dituduhkan pada kata ini), non-hirarkis, dan berpusat pada penjelasan mendalam inilah saya menemukan faedah-faedah ritual agama. Misalnya, sholat adalah representasi dari kebutuhan manusia untuk tidak stres dan berkutat dengan hal duniawi terus menerus sepanjang hari. Seorang yogi teman baik saya akan stop kerja tiap 1 jam untuk melakukan stretching dan meditasi ringan selama lima menit, kemudian kembali kerja. Dengan itu, dia lebih fokus. Bahasa Islamnya, “sholat dhuha dan zuhur dan ba’da zuhur dan ashar”. Misalnya, sholat adalah representasi dari kebutuhan untuk menenangkan diri, bermeditasi, mengontrol nafas dengan teratur, melatih fokus (atau kekhusyukan) yang sangat penting agar ritme kerja otak bisa tetap teratur. Sholat adalah representasi dari pentingnya bangun pagi. Nah, ritualnya bisa beragam rupa (sholat, yoga, meditasi, dsb), namun aspek utilitarian tersebut terpenuhi. Sama halnya dengan puasa, zakat, dan sebagainya.

Yang menarik di sini adalah, saat saya melangkah ke luar agama, saya malah menemukan makna keberagamaan. Saat berada di dalam koridor agama, makna tersebut tidak muncul karena semua orang sibuk mempraktekkan fundamentalisme: literal saja, jangan pahami, jangan kontekstualisasi, dan yang paling penting, jangan pernah tanya! Sayang sekali jika nilai-nilai agama yang sebetulnya sangat pragmatis dan kaya menjadi hilang karena orang-orang terlalu sibuk menuhankan dogma.

Mengapa judul sub-bagian ini “lost in translation“? Karena teks kitab suci adalah sebentuk bahasa. “Harfiah” jelas tidak bisa dilakukan, karena bahasa sifatnya multi-interpretatif dan banyak sekali nuansa-nuansa spesifik yang hanya bisa dipahami jika seluk beluk bahasa tersebut diselami. Salah satu contoh menariknya adalah Hasan bin Farhan al-Maliki (klipnya bisa dilihat di bawah, sebuah pembahasan tentang ateisme, cukup relevan dengan tulisan ini), yang melakukan analisis terhadap kata-kata yang sering digunakan dalam Islam. Ia menghasilkan pemahaman yang sama sekali berbeda dengan pandangan mainstream tentang ateisme. Opininya adalah salah satu contoh yang menunjukkan bahwa bahasa memang memiliki sifat cair. Karena sifatnya cair, fundamentalisme kehilangan maknanya, karena toh pemahaman fundamentalis yang ultra-literal adalah sendirinya merupakan sebuah bentuk interpretasi atau ijtihad!

3. Arab-sentris

Yang juga sayang adalah bahwa makna agama menjadi campuraduk dengan sinkronisitas budaya. Dalam Islam populer, misalnya, mendengarkan nasyid, memakai baju koko, atau memanjangkan jenggot otomatis dianggap bernilai Islami. Padahal, ini lebih merupakan budaya Arab. Lagu Michael Jackson “Heal The World” sebetulnya sangat islami karena mengusung nilai “hablum minannas” dan “rahmatan lil alamin” (for you and for me and the entire human race). Nasyid “Ummi” Haddad Alwi tentang surga di telapak kaki ibu sebetulnya tidak lebih islami dibandingkan “Bunda”-nya Melly Goeslaw atau “Dear God” dari Avenged Sevenfold. Saya pernah melakukan percobaan kecil: di sebuah forum umum sejarah Islam, saya presentasi sambil ditemani lagu “Ensani Ma Binsak” dari Diana Karazon sebagai pengiring. Akan tetapi, lagu tersebut, walau nuansanya sangat Arab, sebetulnya bercerita tentang cinta membara antara dua insan yang dimabuk asmara. Semua orang ternyata manut saja, seolah-olah itu adalah lagu yang sesuai untuk disandingkan dengan nilai-nilai Islam. Kenapa? Karena lagu itu berbahasa dan berirama Arab.

Sayang sekali jika makna Islam kemudian terbatas menjadi “segala sesuatu yang berbau Arab” hanya karena kita bersikap fundamentalis, tidak terbiasa mempertanyakan asal muasal aturan agama — mana yang produk budaya dan mana yang memang betul-betul Islam. Faedah dan falsafah yang menjadi tujuan utama para rasul jadi hilang dan agama menjadi kosmetik belaka. Bagai ibu ibu sosialita yang memakai gaun mahal bermerek saat hadir ke arisan, keberagamaan dinilai dari seberapa Arab langgam tutur dan pakaian kita saat hadir ke acara-acara bertitel arab juga.

Celakanya lagi, karena terbiasa mencampuradukkan Islam dan kultur, banyak kebiasaan buruk yang dianggap sebagai “muslim” padahal hanya merupakan kebiasaan budaya daerah tertentu, misalnya, mutilasi genitalia perempuan di Afrika. Bagi pihak yang tidak suka dengan Islam atau bersikap islamofobik, semakin mudah untuk melakukan racial profiling dan mendiskriminasi lebih jauh karena pemeluk Islam sendiri banyak yang tidak memiliki kemampuan klarifikasi yang baik.

4. Dominion of Fear

Dominion of fear atau dominasi rasa takut adalah kondisi psikis di mana ketakutan menjadi sumber utama pengambilan keputusan. Kondisi ini banyak terjadi dalam umat beragama di bawah anggapan bahwa lembaga peradilan Tuhan (sistem hisab, sistem surga/neraka/Al-A’raaf, hari kiamat) tidak memiliki kerangka naik banding (appeal) apapun. Kerangka tersebut sudah mutlak, hitam dan putih, dan tidak bisa ada kompromi sama sekali. Sehingga, menakutkan. Jika aturan tidak dipenuhi, maka hukumannya adalah eternal damnation atau neraka abadi. Mempertanyakan Tuhan dianggap sebagai hal yang mempertanyakan otoritas Tuhan, kebenaran wahyu, dan menghilangkan kesempatan makhluk tersebut dari memberikan sembah, sehingga akan dihukum.

Tentu saja, ini terjadi berdasarkan pemahaman agama yang saklek dan fundamentalis (berdasarkan banyak ayat-ayat Makkiyah di Qur’an). Yang menarik di sini adalah bahwa sekali lagi terjadi kontradiksi hebat. Tuhan Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Mengetahui, dan Maha Adil. Akan tetapi, seolah-olah semua sifat ini hilang seperti asap hanya saat menghadapi orang yang mau mempertanyakan mengapa begini dan mengapa begitu. Ini sangat aneh, mengingat bahwa sifat penguasa yang tidak mau dipertanyakan dan tidak memiliki kompromi/sistem appeal justru adalah raja-raja lalim yang sering disebut sebagai penerima azab dalam sejarah; mengingat bahwa sifat nabi dan rasul justru malah mempertanyakan aturan raja lalim tersebut (yang mereka anggap tidak adil); dan mengingat bahwa Muhammad menyuruh kita menuntut ilmu dari buaian sampai ke liang lahat — artinya, tidak pernah menyerah dalam mencoba mendapatkan pemahaman yang lebih. Nah, kok malah Tuhan menjadi penguasa lalim itu sendiri? TIdakkah ini merupakan kontradiksi hebat?

Bagaimana kontradiksi hebat ini ditengahi? Bertrand Russell, penulis buku menarik berjudul “Bertuhan Tanpa Agama” pernah mengatakan, seandainya Tuhan bertanya kepadaku kenapa aku tidak beribadah kepadanya, aku akan berkata, “Tidak cukup bukti, ya Tuhan!” Ini mungkin dimengerti oleh pemeluk agama sebagai hal yang “mempertanyakan otoritas Tuhan”, sehingga sangat mengerikan. Akan tetapi, melalui pernyataan ini Russell secara implisit menyatakan, “Aku terus mencari-Mu, ya Tuhan, you know I really tried!” Tidak cukup bukti bukanlah kata-kata orang yang tidak peduli dengan Tuhan, karena tidak cukup bukti adalah kata-kata seorang investigator yang terus mencari jawaban, researcher yang berjerih payah, dan jerih payah ataupun upaya mental hanya akan dilakukan oleh orang-orang yang betul-betul peduli tentang misteri Tuhan, misteri alam semesta, dan mencoba memahaminya.

Menghadapi Russell, bagaimanakah kira-kira reaksi Tuhan yang maha Adil? Berupaya tetapi “gagal” tidak ada harganya dan hanya akan dihukum? Tidakkah ini melanggar prinsip keadilan Tuhan sehingga Tuhan menjadi lalim dan tidak lagi sesuai dengan asma-asmanya?

Yang lebih penting, apa itu “kegagalan”? Tuhan jelas tidak mungkin sepenuhnya dipahami karena Ia adalah entitas yang luar biasa kompleks. Sehingga, tidak mungkin ada “kegagalan” di sini karena tidak mungkin ada “keberhasilan” manusia untuk sepenuhnya memahami (jika itu terjadi, game over, hidup sudah kehilangan makna dan misterinya). Dualisme kegagalan/keberhasilan tidak ada di sini, sehingga yang ada hanyalah usaha dan upaya. Satu-satunya hal yang memiliki nilai adalah upaya, upaya pemahaman terhadap Tuhan, aturan-aturannya, prinsip-prinsipnya. Nah, sekarang pertanyaannya adalah, apakah orang seperti Russell yang berupaya untuk memahami melalui pertanyaan bernilai lebih rendah daripada yang tidak mencoba mengerti dan puas hanya dengan penjelasan-penjelasan sederhana? Wallahualam, namun, menilik pada keadilan Tuhan, rasanya Tuhan akan lebih menghargai yang mencoba memahami lebih jauh, karena itu mendekati pemahaman yang lebih dalam terhadap esensi kebertuhanan, dibandingkan saat rasa takut menjadi berhala yang malah menjauhkan kita dari berenang lebih dalam di samudera ketuhanan yang dalamnya tanpa batas.

Terakhir, siapa sih yang akan meraup keuntungan dari umat yang penuh rasa takut? Para patron dan penguasa institusi agama. Mereka berada di atas angin karena ketakutan menjadi belenggu yang menjadikan umat akan mengikuti apa saja yang sesuai dengan keinginan para penguasa tersebut. Misalnya, saat Rhoma Irama dan Camellia Malik tidak suka dengan Inul Daratista yang pamornya melejit sebagai penyanyi dangdut sehingga mencaplok popularitas mereka atau menghalangi style mereka yang lebih melayu, agama bisa difungsikan dengan sangat baik untuk menjatuhkan karir Inul sambil menanamkan rasa trauma yang begitu mendalam. Ini hanyalah contoh kecil. Agama sering ditunggangi banyak kepentingan politik, misalnya oleh para paus haus darah yang sangat semangat ekspansi kekuasaan dan maju ke Perang Salib, oleh Joseph Kony atau Boko Haram di Afrika, oleh Al Qaeda ataupun Taliban di Afghanistan, atau bahkan oleh George W. Bush saat akan menginvasi Irak. Dalam bukunya “What is Enlightenment”, Immanuel Kant mendeskripsikan sebuah yoke atau tali kekang yang memudahkan para penguasa untuk mengontrol umat melalui rezim pemikiran yang harus seragam. Tali kekang tersebut — sama dengan yang digunakan Firaun terhadap rakyatnya, untuk merebus Siti Masyitah hidup-hidup, dan yang ditentang habis-habisan oleh Musa — adalah ketakutan terhadap Tuhan, bukan kebertuhanan yang merdeka.

Inilah alasan-alasan mengapa dominion of fear seharusnya tidak menjadi dasar kebertuhanan. Tuhan seharusnya lebih besar, lebih arif, dan lebih baik daripada ketakutan kita terhadap ancaman-Nya. Bagi saya, kebertuhanan yang ideal adalah kemerdekaan saya untuk mencari dan mengeksplorasi makna Tuhan, bukan sekedar manut karena takut. Saya sih lebih takut dihukum Tuhan karena tidak bisa menjelaskan mengapa saya beragama jika nanti mungkin saya bertemu dengan-Nya.

Penutup: Contek!

Waktu mengenyam pendidikan di sekolah, saya sering mencontek dalam pelajaran-pelajaran yang saya memang tidak tertarik seperti matematika dan fisika, dan memberi contekan dalam pelajaran yang saya sukai seperti bahasa Inggris. Saat mencontek, terkadang saya merasa lega karena nilainya tidak butut-butut amat, tapi tidak ada kepuasan batin sama sekali, soalnya saya hanya niron jawaban teman saya dan kalaupun betul ya sebatas hoki karena saya bertanya pada orang yang tepat, tanpa paham mengapa jawaban tersebut yang paling benar. Jelas, walaupun nilai saya bagus, saya tidak bisa memberikan penjelasan kalau ditanya kenapa jawabannya sekian dan sekian.

Pendidikan di Indonesia memang seperti itu, khususnya untuk sistem multiple choice. Mudah untuk mencontek, yang penting jawaban betul, nilai raport bagus dan orang tua terkesan sehingga memberikan hadiah berupa segepok komik baru, uang saku tambahan, dan tamasya ke Dufan. Akan tetapi, belakangan ini pendidikan terus bergerak ke arah yang lebih optimal. Jawaban yang ditanyakan oleh guru lebih berupa esei yang meminta pelajar memberikan analisis dan opini terkait sebuah permasalahan. Nilai tidak lagi hanya berupa angka, melainkan harus berupa penjelasan yang menggabungkan aspek kognitif dan attitude. Esei pun sering dinilai menggunakan koridor pikir open-ended — tidak hanya satu jawaban yang benar sepanjang analisis yang diajukan pelajar bisa dijustifikasi. Di pendidikan tinggi, inilah yang kita lakukan; terlebih lagi kalau di pendidikan tinggi negara-negara yang pendidikannya memang sudah luar biasa maju.

Sistem pendidikan saja sudah terus berevolusi ke arah di mana ketepatan jawaban menjadi sekunder terhadap kedalaman pemahaman. Kebertuhanan dan keberagamaan, yang notabene adalah pengalaman belajar yang lebih hakiki dan sepanjang hidup dibandingkan jenjang sekolah, juga harus berevolusi ke arah tersebut. Seperti yang tadi sudah disebutkan, kita biasanya mencontek kalau kita tidak cukup peduli dengan pelajaran tersebut, tidak terlalu suka, cuman ingin lulus sajalah. Kita biasanya tidak mencontek kalau kita betul-betul ingin bisa dan ingin lebih banyak paham.

Untuk itu, relevansi fundamentalisme, yakni bentuk mencontek yang sederhana terhadap aturan Tuhan tanpa memahami lebih jauh, menjadi hilang. Pemahaman kita harus mendalam karena kalau tidak, manusia menyatakan bahwa kepedulian kalah oleh dominion of fear; agama kehilangan kekayaan, makna, dan relevansinya; Tuhan kehilangan kompleksitasnya. Banyak orang berkata kepada saya, “sudahlah, gak usah pusing-pusing, kamu kan manusia yang otaknya terbatas, pasti gak bisa memahami Tuhan yang begitu kompleks…” tapi sebetulnya yang ingin dicari bukan memecahkan misteri Tuhan sepenuhnya dan secara total (karena, sekali lagi, ini tidak mungkin), melainkan pemahaman yang mencoba bergerak satu langkah lagi lebih dekat dengan-Nya; menguak satu tabir lagi dari eksistensialisme kosmos yang lipatannya takkan pernah habis namun selalu fascinating untuk ditelaah; menikmati kebesaran-Nya.

Agaknya, Jason Mraz pun bisa terasa cukup relijius saat menengadahkan pandangan ke langit angkasa dan dalam liriknya bernyanyi,

Well, I won’t give up on us
Even if the skies get rough
I’m giving you all my love
I’m still looking up…

Mungkin saya penuh ketidaksempurnaan dalam ke-manusia-an saya, tapi saya tidak akan pernah menyerah mencoba memahami-Mu.

18 thoughts on “Hilangnya Relevansi Kebertuhanan Fundamentalis

  1. There’s no doubt in Qur’an(Al Baqarah :2) : Perfect for doing all of our need in life. For our imperfection and to understand Allah more, may be we should read Qur’an more, not once, twice, but often.

  2. Assaalamualaikum, Kak. Saya merasa kita memiliki paham yang sama tentang apa itu agama. Saat ini saya sedang dalam masa pencarian, namun saya islam. Akan sangat menyenangkan apabila kakak mau berbagi pengetahuan hasil mencari kebenaran sesungguhnya secara personal:) terima kasih.

    1. Hi Bella! Waalaikumsalam. Boleh dong, saya akan kirim e-mail ke Bella ya. Saya juga nggak akan bilang bahwa pendapat saya paling benar. Pencarian soal Tuhan kan pencarian seumur hidup, jadi selalu menyenangkan untuk ngobrol, tukar pendapat, dan terbuka sama pandangan orang lain🙂

  3. Maaf saya rasa anda perlu membaca alqur’an beserta tafsirnya dan semua hadist shahih beserta penjelsan dan alasan turun
    Apa anda sudah melakukannya? Anda ingin jawaban instan yang langsung dapat dilogika jadi anda malah cenderung membaca buku2 selain islam. Coba pelajari islam sampai tuntas baru komentari. Anda baru tau kulitnya saja sudah merasa hebat menyalahkan Allah. Ibarat orang baru mau bicara sudah anda salah2kan.

  4. Analisa yang menarik, tapi sangat keliatan memiliki pengaruh orientalis dan ‘intelektual’ Islam ‘kontemporer’/’modern’. Saya paham datangya dari mana, saya juga sempat menganggap fundamentalisme itu sudah tidak relevan. Namun jangan samakan tradisionalisme Islam dengan tradisionalisme Kristen atau agama lain, sifat Al-Qur’an dengan Injil dengan Taurat jauh berbeda. Memang yang dipaham sekarang mengenai literalisme itu “blindly following divine scripture” tapi sayangnya itu pemahaman yang sangat sempit dan tidak melihat kompleksitas Al-Qur’an. Meskipun mengikuti tanpa bertanya-tanya itu dianggap fundamentalis, namun mencoba mempreserve scripture dalam bentuk murninya sekaligus mengintepretasinya untuk masyarakat modern dengan metodologi yang sophisticated dan tidak kontradiktif terhadap dirinya sendiri itu juga bagian dari literalisme (pada akhirnya ini masalah semantik sepertinya).

    Kalau ada waktu coba tonton video ini (https://www.youtube.com/watch?v=hn0QbNUbh7I). Saya berharap masnya masih niat belajar dan semangat berinvestigasi, makanya saya sarankan melihat dari sisi ilmu tradisional Islam – cabang ilmu dari timur yang juga menggunakan logika (tradisi yang sudah berumur lebih dari 1000 tahun) namun memiliki nuansa yang cukup berbeda dibanding logika barat. Coba juga baca-baca blog ini (http://partytilfajr.tumblr.com/).

    Saya ingin bertanya, kesimpulan bahwa Nabi Ibrahim AS dan Muhammad SAW adalah orang-orang visioner yang menggunakan divinitas untuk memobilisasi masyarakat sekitarnya (alhasil menjadikan scripture untuk zaman ini tidak serelevan zaman dahulu) itu dari mana ya? Dari buku kah atau hasil pemikiran sendiri? Jujur saya baru pertama kali membaca pandangan seperti ini dan idenya cukup menarik.

    Terakhir, masalah faith and reason, menurut saya kedua hal tersebut berbeda namun tidak bisa dipisahkan dalam beragama, terutama agama Islam. Misalnya, sholat bisa saya anggap sebagai meditasi harian yang memilki efek postif terhadap tubuh, namun first and foremost sholat adalah basic tennet agama Islam. Menolak reasoning dibalik ritual kepercayaan itu tidak pintar, tapi mengabaikan adanya perintah divine dan aspek spiritualitas dibalik ritual tersebut juga sama saja.

    1. Hi Umar, terima kasih sekali atas replynya yang secara jelas merespon poin-poin besar yang saya sampaikan di tulisan saya. Saya sangat hargai waktu dan perhatiannya, terutama karena banyak reply/komentar lain yang cenderung tidak komprehensif kalau membalas. Begitu ada reply yang komprehensif, terasa sangat heartening… terlepas dari apakah sepandangan atau tidak. Pertama tama, terima kasih ya🙂

      Saya setuju dengan komentar Anda bahwa definisi “literalisme” dan “fundamentalisme” bisa mendorong diskusinya jadi debat semantik belaka. Agar terhindar dari debat semantik, kita bisa bergerak seperti ini: pendekatan untuk “mem-preserve kemurnian scripture Qur’an sekaligus interpretasi dengan metodologi yang sophisticated dan tidak kontradiktif” sangat bagus. Apakah ini bisa disebut “literalisme” atau “fundamentalisme”, saya kurang yakin, tapi apapun istilah yang kita gunakan, rigor seperti ini sangat baik. Kuncinya adalah ada proses upaya berupa metodologi mendalam yang digunakan untuk memahami Qur’an.

      Sayangnya, dari yang saya banyak lihat tentang bagaimana umat dan agamawan secara umum bertutur, biasanya “metodologi mendalam” seperti itu kurang umum digunakan. Terlalu banyak yang mengandalkan “kata Tuhan deh pokoknya!” sehingga terkesan “asal catut”… sepanjang sebuah kalimat disebutkan dalam qur’an, sudah pasti benar, padahal kalimat tersebut mungkin tidak disandingkan dengan ayat lainnya, atau tidak dikontekstualisasi dengan bagaimana situasi yang melatari penurunan ayat tersebut. Artinya, proses tafsir tidak dilakukan. Ini sih yang sebetulnya disayangkan.

      Kemudian, pada keilmuan Islam versus logika barat, terima kasih atas sarannya. Saya sedang baca tumblr yang Anda berikan dan akan baca-baca berbagai tafsir Qur’an lebih jauh, menajamkan yang pernah saya pelajari waktu zaman SD/SMP/SMA di sekolah Islam. Akan tetapi, saya rasa “ilmu tradisional Islam” dan “logika barat” sebetulnya punya lebih banyak kesamaan daripada perbedaan. Membaca karya-karya Kant, Hobbes, Russell, Kierkegaard, Marx, dan bahkan Nietzsche yang pesan bombastisnya berjudul “Gott ist tot!” sebetulnya punya banyak faedah dan pesan moral yang beririsan dengan prinsip-prinsip yang mencoba diusung Muhammad SAW. Secara praktek ritual dan gaya bahasa, mereka sangat berbeda (mungkin karena pengaruh perbedaan abad kemunculan juga… pemikir2 “barat” biasanya secara psikologis lebih gahar bahasanya karena sangat terbakar semangat renaisans, sebagai reaksi antitetis terhadap patronasi feodalisme dan gereja di zaman medieval yang sebelumnya muncul, dan beberapa bereaksi terhadap revolusi industri). Dari teologi Islam jelas akan saya investigasi lebih jauh, tapi saya berangkat dari landasan pikir untuk menemukan benang merah dan resolusi antara pemikiran Islam dan pemikiran barat — benang merahnya, saya yakin, adalah dedikasi terhadap moralitas, kemanusiaan, dan visi mengenai dunia yang lebih baik. Kesimpulan terhadap kisah Ibrahim tersebut kesimpulan saya berdasarkan kontradiksi yang terlalu banyak dalam body of thought para Rasul: mereka jelas visioner karena punya pandangan yang jauh di depan zamannya. Tapi, kalau mereka memang pintar, masa penjelasannya cuma berdasar divinitas saja? Cara saya meresolusikan kontradiksi tersebut adalah melihat bahwa para Rasul memang sengaja menyampaikan penjelasan berbasis divinitas karena itu yang mereka butuhkan untuk bisa connect dengan masyarakat saat itu, agar ide pembaruan masyarakat mereka yang futuristik, relatif terhadap kondisi saat itu, bisa gol. Tapi ya jelas, saya tidak akan menyatakan bahwa ini adalah pandangan yang pasti atau paling benar, nauzubillah. Hanya saja, melihat rasul dengan cara seperti ini membuat saya lebih mudah untuk melihat bahwa tujuan agama memang untuk paling efektif memperbaiki masyarakat, inilah manifestasi ke-MahaPengasih dan ke-Maha-Penyayang-an Tuhan.

      Terakhir, soal pemisahan faith and reason, saya setuju dengan Anda bahwa kedua hal ini bagus kalau coexist. Yang saya khawatirkan adalah, banyak sekali orang yang menganggap kedua hal ini TIDAK BISA saling berdampingan! Kalau sudah faith, reason nggak perlu lagi (sebaliknya juga gak lengkap atau lebih tepatnya gak akan pernah akurat). Apalagi terkait tuduhan bahwa mencari pemahaman lebih dalam adalah tanda dari iman/akidah/kecintaan pada Tuhan yang lemah. Pengabaian terhadap pencarian reasoning saat (merasa) faith sudah kuat, itu sih yang menurut saya menjadi kecenderungan yang patut disayangkan.

      1. Sebenarnya saya tidak sepandangan, tapi sepertinya saya kurang cerdas untuk mengubah pemikiran anda yang lebih mahir filosofi barat dan perlogikaan. Tapi tetap saya coba, insya Allah.

        Yang anda lihat sekarang tentang metode penafsiran dan diskursus Islami secara umum itu (menurut saya) lumayan berbeda dibanding golden ages pemikiran Islam yang terjadi secara umum sebelum terbentuknya imperium Ottoman. Terbentuknya metodologi hadits dan cabang-cabang aqidah merupakan bukti dari betapa berkelasnya diskursus keagamaan zaman tersebut. Dan, seperti yang anda bilang tentang filosofi barat, ini merupakan respons terhadap kondisi zaman tersebut. Imam Al-Ghazali mendukung cabang aqidah Ashari untuk menentang para pemikir Mu’tazila yang mengutamakan logika dibanding wahyu, sedangkan Ibn Taymiyyah mendukung cabang Athari sebagai respons terhadap Imam Al-Ghazali dan aqidah Asharinya yang ia anggap problematik (ini ringkasan dari video yang saya beri linknya). Bedanya dengan zaman sekarang, intelektual yang mempelajari ilmu klasik ini antara kurang terexpose atau kurang bisa mengambil ilmu tersebut ke dunia modern. Alhasil yang sering dilihat adalah bocah-bocah yang baru mengenal Ustadz Felix Siauw terus sok-sokan berceramah di Facebook. Mungkin anda sudah tahu semua ini dari masa sekolah anda dulu, tapi jika belum inilah pendapat saya.

        Poin lain yang saya tidak setuju adalah mengenai bagaiman para rasul menggunakan wahyu sebagai alat mobilisasi umat. Mungkin ini karena asumsi yang kita masing-masing ambil sudah berbeda dari awal. Yang saya lihat anda sepandang dengan Kant perihal moralitas (maaf kalau salah), yakni moralitas muncul dari reason. Ini mungkin juga berhubungan dengan persepsi manusia terhadap realita menurut Kant, yang menganggap realita adalah hasil pemikiran manusia, alhasil moralitas yang dihasilkan oleh pemikiran manusia adalah moral yang benar relatif terhadap realita yang ia hasilkan. Asumsi yang saya miliki lebih cenderung ke realisme. Dengan kepercayaan tentang kebaradaan Allah (ini penting, karena jika kita ragu dengan keberadaanNya, diskursus yang mengikuti akan runtuh), saya juga beriman bahwa Allah Maha Benar dan tidak berkontradiksi; oleh karena itu wahyu (yang merupakan bagian dari Allah, bukan makhluk) yang diturunkan juga benar dan tidak ada kontradiksi. Adanya kontradiksi dalam Al-Qur’an bergantung dengan asumsi satu lagi yang saya ambil; bahwa manusia merupakan ciptaan dan tidak sempurna seperti Tuhan dan dengan itu tidak Maha Benar. Sebagian hasil pemikiran manusia mungkin bisa sepandangan dengan wahyu, namun dengan asumsi manusia tidak sempurna sedangkan Allah sempurna, maka yang diutamakan adalah wahyu. Dengan itu, moralitas yang dihasilkan manusia banyak yang sama dengan moralitas yang diturunkan Tuhan, namun tidak semua hasil pemikiran manusia bisa dianggap benar, karena Tuhan lah yang Maha Benar dan Maha Mengetahui.

        Jadi, menurut saya para Rasul memang orang-orang revolusioner, tapi mereka first and foremost adalah hamba Allah yang memiliki trust terhadapNya bahwa mereka akan dilindungi dan diberi petunjuk, sekonyol apapun perintah yang diberikan. Menganggap bahwa mereka berdakwah dengan membawa alasan divinitas demi ‘nyambung’ ke umatnya itu problematik, karena ini membuat ruang untuk interpretasi bebas terhadap wahyu yang sudah saya asumsikan benar, seperti yang diturunkan oleh yang Maha Benar, dan juga menganggap remeh the word of God.

        Saya ingin klarifikasi, masalah faith dan reason yang saya maksud adalah mereka saling melengkapi, belum tentu beriringan. Ritual yang tidak sepenuhnya masuk akal dilengkapi dengan faith bahwa ini yang Allah mau, sebaliknya ritual yang dilakukan dengan iman lemah dilengkapi dengan reason dibalik ritual tersebut.

        Pada akhirnya semua up to the assumptions we take. Apakah kita berasumsi bahwa Allah dan wahyu-Nya Maha Benar dan kita sebagai manusia memiliki kencenderungan untuk salah, atau bagaimana? Semoga Allah memberi hidayah kepada anda dan saya juga dan juga orang-orang yang masih bertanya-tanya dan juga yang belum bertanya, Allahumma aamiin.

        Eid mubarak, assalaamu’alaikum.

  5. salut,
    mohon ijin turut menyebarkan idenya om.
    ditunggu kelanjutan dari tulisannya…

    salam

    nb:
    ijin saran om.hehehe
    ada baiknya apabila beberapa susunan kalimat disusun dan/atau dicari sinonim dari beberapa kata-kata yang ada (ataupun langsung saja gunakan definisi kata yang bersangkutan) agar lebih banyak lagi pembaca yang dapat memahami serta menikmati tulisan saudara namun tidak mengurangi rasa dari tulisan saudara (hehehe, sok tau banget ya kayaknya gw *peace)

    1. Iya nih, kadang-kadang saya suka terlampau semangat dan kreatif cari kata-kata… karena judulnya bereksperimen jadi ada yang berhasil ada yang tidak. Makasih banyak masukannya mas LPRaharjo! pasti akan saya perhatikan untuk tulisan-tulisan edisi ke depannya. Jangan kapok bacanya yaaa hehe

  6. pemaparan yang cukup menarik dengan bahasa yang cukup ringan🙂

    memang banyak pertanyaan (dan jawabannya juga tentunya) menyangkut hal yang mungkin terlalu biasa kita lakukan.

    soal pengarakteran sosok nabi, walau sangat memicu perdebatan tentunya, saya tidak jarang berpikir serupa.

    selamat menggali terus (dan saya juga)

    salam

  7. Yang fundamentalis sebenarnya cuma agama islam. Dari sejak pertama pendirinya yaitu muhammad sudah bermaksud untuk menjadikan aliran agama nya sebagai satu-satunya agama atau aliran yang benar. Sebagian besar ayat di alquran bertujuan untuk membedakan antara islam dan non islam. Untuk mencapai tujuan nya muhammad mengaku bahwa ayat-ayat alquran adalah kata2 allah sendiri sehingga mutlak kebenarannya. Agama2 lain terutama agama kristen tidak pernah mengatakan bahwa kitab nya di tulis oleh Tuhan. Malah jelas ditulis jika injil di tulis oleh 4 rasulnya. Penganut2nya yang berpendapat bahwa kitab injil secara fisik suci adalah salah besar kalau tidak mau dianggap bodoh atau tidak mengerti membacanya.
    Yesus dalam cerita2 di injil itulah yang suci dan di akui meski dalam quran sekalipun.
    Tentang kebenaran alquran sebagai kata2 allah sendiri juga sangat diragukan sebab sampai sekarangpun orang islam masih tidak bisa menghitung waktu setahun secara tepat dengan lebaran yang selalu maju beberapa hari setiap tahunnya. Kalo memang allah maha tahu, apa susahnya bilang ke muhammad setahun tuh kira2 265.25 hari.

    1. Hi Teepeepee. Ada yang saya setujui dari komen Anda, khususnya penjabaran soal injil yang dalam sejarah perkembangan kristen tidak secara resmi dinyatakan sebagai kata-kata Tuhan. Makasih informasinya🙂

      Kendati demikian, menurut pandangan saya sih fundamentalisme bisa terjadi di agama apapun, kalau dalam Kristen oleh George Marsden, dalam pengertian skriptural di Katolik Ortodoks, sampai penganut konservatif garis keras yang banyak terlihat misalnya di AS sampai sekarang. Di Islam juga, gak semuanya fundamentalis. Di Indonesia saja, ulama2 besar seperti Quraisy Shihab dan alm. Gus Dur pemahaman agamanya penuh penjelasan, kontekstualisasi, dan mau diajak dialog untuk pertanyaan-pertanyaan lebih lanjut. Dalam Islam ada yang disebut ilmu tafsir, metodologinya juga beragam, antara lain mencoba merunut konteks turunnya ayat secara historis. Hanya saja, golongan fundamentalis menolak untuk menggunakan jenis tafsir tersebut dan langsung verbatim saja apa yang plek plek ditulis di Qur’an yang dipahami. Di video YouTube di atas, bisa dilihat bahwa ulama penanya pendekatannya lebih verbatim dan sederhana, sementara Syeikh Hassan bin Farhan Al-Maliki pendekatannya lebih menggunakan analisis bahasa dan konteks. Jadi, kalau yang saya pantau sih dalam Islam pun ada yang fundamentalis, ada yang tidak, sebagaimana di agama lain.

  8. Islam yang tidak percaya bahwa quran sebagai wahyu allah yang berbahasa arab yang 100% benar sampai kata per kata adalah bukan islam. Sebab islam tidak relevan jika penganut nya mengaku jika quran ditulis oleh manusia yang bisa salah.
    Dari sejak ayat2 awal dalam quran penulisnya dalam hal ini allah sudah membagi manusia menjadi islam dan non-islam. Juga terlihat jelas jika penulis quran bermaksud mendirikan agama islam untuk memerangi non-islam.
    Apakah ada orang islam yang mengakui kebenaran ini? Ataukah kebenaran ini akan di bunuh sebagai non-islam?

    1. Klasifikasi pendekatannya tidaklah sesederhana dikotomi antara “ditulis tuhan” vs. “ditulis manusia”. Pendekatan yang ideal adalah tetap memegang ide bahwa Qur’an adalah wahyu dari Tuhan (memiliki elemen divinitas) tapi harus dipahami secara hati-hati dan rendah hati karena pembacaan/pemahaman manusia terhadap Qur’an bisa saja salah. Sehingga, walaupun pemeluk Islam mempercayai bahwa wahyu turun dari Tuhan, kami harus memahami dan mempelajari konteks penurunan tiap ayat secara komprehensif, serta kemudian menyandingkan ayat-ayat tersebut dengan ayat-ayat lain sehingga tidak asal catut.

      Pendekatan seperti ini banyak digunakan dalam tafsir Islam yang lebih tidak saklek. Misalnya, oleh para feminis Islam, antara lain Nawal el-Saadawi tentang ketentuan hijab; oleh Quraisy Shihab; oleh syekh yang saya sebutkan juga sebelumnya. Pemahaman Hassan bin Farhan al-Maliki juga pernah disebutkan oleh seorang mufti di Mesir pada awal 90-an. Saya lupa namanya tapi ada pemikir Islam dari Sudan yang saat ini mengajar di Emory University yang menyatakan bahwa bahaya utama yang merongrong Islam adalah ke-kita-an, yakni konsep ummah yang terlalu berfokus pada keseragaman — akhirnya seperti yang Anda katakan, hanya ada satu cara untuk tetap di dalam; yang lain “dibunuh sebagai non-Islam”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s